Posts Tagged “harvard”

Udah lama juga ga baca Harvard Case Study semenjak gue selesai MBA. Sampai akhirnya kemarin gue dapat pelatihan dari Markplus (dr kantor) lalu di pelatihan itu ada group assignment dgn bahan dari Harvard Case yang judule “take the money or run?”. Sounds like an intimidating title to me.

Berawal dari jiwa entrepreneurship seorang Managing Director dari Beckman Engineering yang melihat sebuah peluang bisnis saat ia melakukan kunjungan ke site salah satu kliennya. Sebuah kesempatan yang jarang datang, apalagi bisa dibilang dia menguasai sekali teknis dr peluang bisnis itu. Dia pun akhirnya berkomitmen untuk wirausaha demi menangkap peluang itu, dengan mengajak beberapa temannya yang punya latar blkg bisnis dan teknis.

Singkat kata, untuk urusan pendanaan pun ia menawarkan projek tsb ke beberapa private equity. Dan ada 2 respon yang ia terima.
Private equity pertama, hanya bisa memenuhi 25% dr dana yang ia butuhkan. Mereka tampaknya kurang memahami seluk beluk bisnis yang ditawarkan karena mereka seringkali menanyakan pertanyaan2 yang menurutnya sangat basic sekali di industri itu. Atleast kita bisa berasumsi bahwa private equity ini “jujur”.
Private equity kedua, mampu memenuhi 100% requirement dana mereka. Di sisi lain, mereka pun tampak lihai menguasai bisnis yang ditawarkan ini.

Seems like a no brainer ya. Ofcourse, he’ll choose the 2nd one. Until tiba saatnya negosiasi kontrak. Saat semua klausul sudah disepakati dan tinggal tandatangani saja, saat private equity sudah menyuruhnya utk tandatangan tanpa perlu membaca ulang kontrak itu, ia memaksa utk membaca kontrak itu sekali lagi. Kemudian dia lihat satu pasal antidillution yang secara sepihak diganti oleh pihak private equity tanpa sepengetahuannya.

Tentu saja ia protes. Ia mempertanyakan pasal itu. Pihak private equity pun, dengan bahasa tubuh yang tertangkap agak “mencurigakan”, berdalih bahwa itu ’salah ketik’ dan segera merevisinya.
Melihat keadaan ini, kini ia jadi ragu. Apakah dia bisa mempercayai private equity ini. Dilema pun tercipta. Apakah dia sebaiknya kembali ke private equity pertama yang jujur meskipun dananya lebih kecil.

If you were him, what would you do? Take the money or run?

Group gue pun mengalami dilema kala mendiskusikan kasus ini. Tapi sbnrnya kalau kita sempat memperhatikan, yang namanya kecurigaan itu ga akan pernah bisa lepas kalau seseorang melakukan suatu “hubungan bisnis” (it doesn’t have to be jual beli, bisa saja hubungan ini berupa hutang-piutang, pinjam-meminjam, dll). Even if orang itu berbisnis dengan sodaranya sekalipun, pasti unsur kecurigaan itu ga akan hilang. Kalau mereka menghindari kecurigaan, ga akan pernah terjadi yg namanya bisnis. Kecurigaan itu bukan untuk dihindari, namun untuk di-manage.

Kasus yang ini pun tidak beda, hanya saja mungkin unsur kecurigaannya lebih besar. Namun, selama hal itu masih manageable, knp kita harus mundur.

Akhirnya group gue pun sepakat, we’ll just take the risk. We’ll still make the deal with the 2nd private equity dengan berbagai langkah risk mitigation yang sudah ada di action plan kami berikutnya.
……

Dalam hidup, kita mungkin sering menghadapi kondisi yang serupa. An opportunity comes with all its benefits, drawbacks and also risks. Masalahnya adalah would we be willing to take that opportunity and try to mitigate all its drawbacks. Afterall, opportunity tidak pernah datang 2 kali (unless if you’re just too damn lucky)

Tags: , , , , , , ,

Comments 3 Comments »