Author Archive

Beberapa hari belakangan ini gue ngerasa daerah perut gue terasa agak sesak dibandingkan minggu2 yang telah lalu. Tapi emang ga heran sih. A few days ago, kita abis ngerayain hari raya Idul Fitri. Setiap silaturahmi ke rumah sodara, ga mungkin ga pasti kita musti nyicipin makanan yang udah disiapkan disana. Rata2 sih makanannya ga jauh2 dari opor ayam, rendang, gudeg (kalau di jawa), dsb. Makanan favorit gue semua :-D
 

Gue jadi ingat sebuah email yang sempet beredar ke inbox gue pas ramadhan kemarin. Ceritanya begini:

zrtn-001p3032fd91-tn.jpgDi sebuah kampung terjadi kehebohan. Pas bulan ramadhan ada seorang bocah yang setiap hari suka keliling kampung itu sambil pamer2 ke penduduk kampung itu. Apa yang ia pamerin? Yang dia pamerin adalah es buah yang ia minum, makan2an lezat yang dgn lahap ia santap. Kontan saja hal ini memancing emosi warga. Setiap kali bocah itu diperingati, ia malah nyengir2 semakin menambah emosi warga. Akhirnya kepala desa pun turun tangan. Ia tahan bocah itu sembari ditanyai, apa motivasinya. Meskipun awalnya ia melawan, akhirnya bocah itu pun menjawab…

“Hai Tuan, selama 1 bulan ini mungkin saya memang memancing emosi tuan2 di kampung ini sekalian yang sedang berpuasa. Tapi hal ini belum ada apa2nya dibandingkan apa yang tuan2 lakukan di 11 bulan lainnya. Tuan2 mungkin masih bisa menikmati santapan setelah lewat waktu magrib, namun kami selama 11 bulan itu memang ‘berpuasa’ sehari semalam karena tidak mampu membeli makan. Di kala kami harus menahan lapar dan dahaga selama 11 bulan itu, tuan2 tanpa perasaan terus menerus menggoda kami dengan bukan hanya makanan dan minuman tapi juga gaya hidup tuan2 yang sangat berlebihan sehingga semakin memancing rasa iri dalam diri kami. Apa yang saya lakukan selama 1 bulan ini, tidak ada apa2nya dibandingkan apa yang tuan2 lakukan selama 11 bulan tsb.”

Belum juga genap seminggu sejak Lebaran, tapi gue udah balik ke kebiasaan lama gue yang suka konsumsi berlebihan. Bukan perut membesar yang gue permasalahkan (dari sananya emg udah begini). Tapi semangat Ramadhan yang sudah sebulan terakhir ini gue praktekkan, kemana perginya? Apa ngaruhnya gue selama 1 bulan menahan diri menjaga nafsu tapi di 11 bulan lainnya semuanya gue biarkan bebas.

In the end of the day, apakah Allah masih mau menerima ibadah Ramadhan gue jika di 11 bulan lainnya kelakuan gue tidak mencerminkan semangat Ramadhan sama sekali. Bukan hanya dalam hal menahan lapar dan dahaga, tapi juga dalam hal menahan emosi dan juga hidup yang berlebihan.

This post was created at this location.

Tags: , , , , , , , , ,

Comments No Comments »

Oh my, tonite will be the last tarawih for this Ramadhan. In the past years, I always looked forward to Ramadhan’s ending. But not this year. Is it because I’ve become more dedicated to Ramadhan’s ritual? Not entirely true if I may say.

Last year I spent the whole Ramadhan abroad. I kinda miss the atmosphere of this holy month. Being the only one in class who didn’t have lunch, no one to accompany me for tarawih, breaking my fast alone with no one beside me, having sahur without my family, etc, etc. Practically I did my fasting ritual but emotionally I didn’t experience Ramadhan at all.

Now that I’ve finally meet again with Ramadhan, a month just doesn’t seem to be enough for me. I still miss this atmosphere, this feeling, this environment.

O Ramadhan, please visit me again soon.

Tags: , , , ,

Comments 1 Comment »

Selesai juga minggu ini OJT gw ke Tresuri ama Internasional. Mulai lg dhe classical training yg mayan bikin ngantuk apalagi pas puasa gini. Kali ini topiknya mengenai Consumer Product.

Ada 1 produk yg namanya CCC (cash collateral credit) yg mnrt gw unik.

Jadi kalau misalnya kita punya simpanan sejumlah 1M di bank, maka kita bisa minta pinjaman ke bank itu dgn pake simpanan itu sbg jaminan (collateral).

Rada aneh jg sih gue pikir. Kalau dia punya simpanan 1M knp ga dia tarik aja uangnya itu drpd ngutang gt.

Tnyt produk ini mayan laku dipasaran, despite bunganya besar. Satu hal yg tnyt mayan unik di masyarakat Indo: kalau punya utang, org Indo jd makin disiplin dlm mengatur cash flownya.

Krn alasan itulah org2 seneng pinjem CCC drpd menarik depositonya. Kalau dia tarik 100 jt dr depositonya, ga jelas kpn duit 100 jt itu bakal bisa kekumpul lg. Tp kalau dia ngutang 100jt maka mau ga mau dia harus disiplin mengatur cashflow supaya utang itu lunas tepat waktu.

At the end of the day, org yg ambil utang CCC masih pegang simpanan yg utuh (dan utang yg lunas) sementara yg nggak ambil utang malah ms blm bs ngumpulin uang sejumlah tarikan yg dia ambil sblmnya.

Artinya yg mrk beli dari CCC ini adalah “motivasi”

Kalau kita dikasih sebuah paksaan (read: motivasi), maka kita jd lebih disiplin utk mencapainya. Kalau ga ada paksaan, ga tau kapan dhe harapan kita itu bs tercapai.

Kalau kita lihat didunia ini, yang “jualan motivasi” kayak bank gini ada banyak lho. Contoh lain mgkn adalah sekolah. Sekolah itu bukan jualan ilmu, krn ilmu itu bs di dpt dr bc buku aja dirumah. Tp 1 hal yg membedakan bljr di rumah dan bljr di sekolah adl: di sekolah kita dikasih homework ama exam. Alhasil murid2 jd “terpaksa” utk bljr supaya bisa lulus dan dpt ijazah.

Kalau “bisnis motivasi” macam ini laku di pasar, apakah berarti scr alami sifat dasar manusia itu adalah ga disiplin(?)

Comments 5 Comments »

Marhaban Ya Ramadhan
*mgkn rada telat juga kali ya baru nulis salam ini di blog, krn skrg udah masuk hari kedua puasa*

So what’s new in life? Well, maybe not much besides the fact that:

- skrg lagi OJT di Div Internasional
- minggu dpn rolling ke Div Tresuri
- bb baru *halah*
- minggu dpn ujian les jepang (which I’m not really good at)
- mulai sering update gak penting2 di twitter
- seneng pake uber krn sekaligus bisa post lokasi n gambar
- nilai ujian klasikal memuaskan meskipun ga ada yg cepek
- suka ngintip2in kaskus akhir2 ini
- pgn beli mobil baru within my budget constraint ofcourse
- blm jg benerin e90 kesayangan ampe skrg :(
- tp e90 gue bisa nyala kalau gue tempel ke bb cover baterenya *aneh*
- alarm mobil gue mati *jgn kasih tau maling*
- udah mulai jarang berenang lagi
- considering to switch language lesson. to arabic maybe (?)
- tidur cepet akhir2 ini
- tp bangun jg jadi lebih cepet *kecuali weekend :p
- pelanggan rutin busway (mau beli tiket terusan aja)
- jarang foto2 lagi a.k.a. dslr jd nganggur

I think that should do it for now. Mudah2an ramadhan kali ini membawa barokah buat kita semua. Looking forward to see what’ll happen in Ramadhan this year :)

Tags: , , , ,

Comments 2 Comments »

memberidanmenerima[1].jpgBaru aja pulang abis subuhan di mesjid deket rumah ama Bokap. Sembari jalan kaki pagi, gue ama bokap banyak ngobrol2 n diskusi di tengah perjalanan pulang. Kemudian topik pembicaraan pun mengarah ke topik moral, dimana bokap sempat menyinggung kalau kerja dimana pun (terutama banking) itu harus mengutamakan moral, kalau nggak nanti jadinya kayak investment manager yang suka ngejar2 nasabah buat investasi dengan iming2 return yang gede tapi menyembunyi2kan resiko yang ada di investasi tersebut.

Lalu bokap cerita (meskipun mungkin ga bgitu nyambung dgn kasus investment manager diatas, tapi masih berhubungan dengan moral). Beberapa waktu yang lalu, bokap sempet makan di warung padang dekat sebuah mesjid yang emang biasa bokap samperin buat solat. Tanpa sengaja, bokap dengar pembicaraan pemilik warung itu dengan seseorang di telpon karena memang orang itu nelpon-nya di deket2 bokap. Ternyata si pemilik warung itu lagi nasehatin keponakannya yang kayaknya lagi bimbang antara mau ngebantuin sodaranya atau tidak. Jadi gini kira2 nasehatnya: “Udah kamu kerja aja sekarang, fokus untuk mencari duit. Kamu ga usah pikirin itu permintaan2 famili2 kamu. Toh waktu kamu kesusahan kemarin ga ada yang bantuin kamu, padahal dulu kamu udah banyak ngebantu mereka. Boro2 bantuin kamu, jenguk aja nggak ada. Jadi mendingan kamu pikirin diri kamu sendiri aja skrg. Cari duit buat anak, istri kamu.”

Waktu bokap cerita begitu, to be honest sekilas ga ada yang salah tuh di benak gue akan nasihat tersebut. Terus bokap bilang ke gue: “berarti ada sesuatu yang salah”. Apa yang salah? Di mindset kebanyakan orang (terutama gue), kalau kita ngebantu orang lain, ada pengharapan untuk mendapat balas budi dari orang lain tersebut. Padahal, kata bokap, kalau kita memang pengen ngebantu orang lain yah yang ikhlas2 saja. Ga usah mengharapkan orang lain itu bakal membalas kebaikan ke kita. Jadi di setiap kesempatan, kalau memang ada peluang untuk berbuat kebaikan maka lakukanlah, tanpa berharap untuk mendapatkan balasan akan kebaikan yang kita lakukan tersebut.

Sesuatu hal yg sering kali, gue lupa :(

Tags: , , ,

Comments No Comments »