Author Archive

Pada pertengahan tahun 90an perekonomian Indonesia terus mengalami peningkatan seperti yang telah dirasakan oleh negara ini ditahun2 sebelumnya. Industri terus berkembang. Perdagangan terus meningkat. Kurs rupiah stabil tanpa gejolak. Ditengah2 kondisi yang kondusif sedemikian rupa, tidaklah mengherankan jikalau akhirnya ada banyak pengusaha yang kemudian lebih milih ambil hutang dari luar negeri (dalam bentuk USD) karena bunga-nya lebih murah drpd hutang dr dalam negeri (dalam bentuk IDR), untuk bisa lebih mengembangkan bisnisnya. Tapi siapa nyana, tahun 1997 Indonesia pun terperosok ke dalam krisis ekonomi yang akhirnya menyeret2 mereka ke lubang hutang yang semakin membesar akibat kurs rupiah yang sebelumnya stabil berubah menjadi mata uang yang terus anjlok seakan-akan tiada bernilai. Mereka yang tadinya hutang 1Milyar rupiah (sblm krisis: 1 USD = 2.000 IDR), jadi berubah hutangnya menjadi 10M (setelah krisis: 1 USD = 20.000 IDR). 900% kenaikannya !!!

zrclip-001p340803e4.pngDi amerika pada akhir tahun 90an dan awal tahun 2000an industri teknologi, terutama yang berbasis web, sedang berkembang secara pesat. Banyak pebisnis yang mencoba peruntungan mereka di bisnis web dan teknologi yang sedang berkembang ini, dan tidak sedikit pula yang merasakan hasilnya. Melihat perkembangan ini, pasar saham pun merespon positif terhadap trend di sektor ini. Saham2 perusahaan yang berbasis web dan teknologi terus mengalami peningkatan nilai. Akhirnya banyak spekulasi yang terjadi. Para pemain saham rela membeli saham2 perusahaan ini tanpa peduli terhadap ukuran2 tradisional yang biasa mereka pakai dalam mengambil keputusan untuk membeli suatu saham seperti price-to-earning-ratio, return-on-asset, dll. Padahal performance suatu perusahaan seperti itu amat sangat bergantung kepada pertumbuhan ekonomi karena bagi rata2 perusahaan itu pertumbuhan itu lebih penting daripada profit.Lihatlah amazon.com dan google.com yang tidak punya laba di awal2 pembentukannya namun mereka lebih fokus ke growth bisnis mereka. Sehingga timbul istilah growth over profit mentality untuk sektor tersebut. Tapi siapa nyana pada thn 1999 - 2000 pemerintah US menaikkan interest rate sebanyak 6 kali sehingga berdampak pada pelambatan laju ekonomi. Alhasil growth yang diharapkan oleh para pebisnis dotcom ini pun tidak terealisasi. Akhirnya terjadilah dot-com bubble, dimana banyak perusahaan ini yang gulung tikar dan banyak pemegang saham yang merugi.

Menjelang berakhirnya dekade 2000an, harga perumahaan di US terus meningkat karena ditunjang oleh bunga KPR yang amat sangat ringan dan mudah prosesnya yang disebut sebagai subprime mortgage. Alhasil banyak pihak yang berlomba2 untuk mengambil (dan juga memberikan) pinjaman KPR untuk membeli rumah yang harganya naik terus tersebut. Tapi siapa nyana pada akhirnya para pengutang mortgage (KPR) ini tidak mampu membayar hutang mereka karena tingkat suku bunga yang terus meningkat (yang sbnrnya diakibatkan juga oleh kebijakan perang US ke timur tengah) sehingga secara massal mereka terpaksa harus menjual rumah2 mereka tersebut (sbg jaminan KPR tersebut) sehingga terjadilah penurunan harga rumah dan terciptalah housing bubble yang men-trigger terjadinya subprime mortgage crisis yang dampaknya masih terasa hingga kini.

Melihat fenomena diatas, tidaklah heran jika akhirnya banyak ungkapan di kalangan orang keuangan yang berbunyi: “bad debts are made in good times”. Lihatlah betapa seringnya orang2 itu terlena pada saat ekonomi sedang bagus2nya dan mereka menjadi kurang perhitungan dalam mengambil keputusan bisnisnya (bahkan cenderung mengambil tindakan spekulatif yang beresiko tinggi). Dan ketika ekonomi berbalik arah, there’s no way out for them.

Kalau menurut saya sih, paling tepat ungkapan itu seharusnya bad decisions are made in good times. Karena seringkali kita take for granted segala “kenikmatan” ataupun “kemudahan” yang kita dapatkan dalam hidup ini. Dan kita tidak pernah memperhitungkan, sekiranya “kenikmatan” ataupun “kemudahan” itu tiba2 diambil secara mendadak dari kita. Alhasil, kita jadi terlantar dan menderita seperti kasus krisis2 diatas.

Manusia pun tidak luput dari kesalahan yang serupa dalam kehidupan sehari-hari. Di saat badan kita sedang sakit, kita suka menyesali kenapa kita tidak menjaga kesehatan di kala masih sehat. Di saat keuangan sedang susah, kita suka menyesali kenapa kita tidak menabung di kala masih kaya. Di saat kita sudah tidak punya cukup waktu untuk orang tercinta kita, kita suka menyesali kenapa kita tidak meluangkan lebih banyak waktu di kala masih senggang. Dan masih banyak hal lain yang bisa menggambarkan betapa manusia cenderung mengambil “bad decision” terutama di saat “good times”. Oleh karena itu jangan tunggu sampai terjadi “bad times” untuk mengambil the right decision in life.

Blogged with the Flock Browser

Comments No Comments »

Adakah istri yang tidak cerewet? Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun sama.

zrclip-001pd195b1a.png

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?

Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?

1. Benteng Penjaga Api Neraka
Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat. Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.
Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah
Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran. Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan
Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada
yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu

4. Pengasuh Anak-anak
Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan
Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji.
Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya

**** taken from a friend’s facebook note ***

Tags: , , , ,

Comments 2 Comments »

Udah lama juga ga baca Harvard Case Study semenjak gue selesai MBA. Sampai akhirnya kemarin gue dapat pelatihan dari Markplus (dr kantor) lalu di pelatihan itu ada group assignment dgn bahan dari Harvard Case yang judule “take the money or run?”. Sounds like an intimidating title to me.

Berawal dari jiwa entrepreneurship seorang Managing Director dari Beckman Engineering yang melihat sebuah peluang bisnis saat ia melakukan kunjungan ke site salah satu kliennya. Sebuah kesempatan yang jarang datang, apalagi bisa dibilang dia menguasai sekali teknis dr peluang bisnis itu. Dia pun akhirnya berkomitmen untuk wirausaha demi menangkap peluang itu, dengan mengajak beberapa temannya yang punya latar blkg bisnis dan teknis.

Singkat kata, untuk urusan pendanaan pun ia menawarkan projek tsb ke beberapa private equity. Dan ada 2 respon yang ia terima.
Private equity pertama, hanya bisa memenuhi 25% dr dana yang ia butuhkan. Mereka tampaknya kurang memahami seluk beluk bisnis yang ditawarkan karena mereka seringkali menanyakan pertanyaan2 yang menurutnya sangat basic sekali di industri itu. Atleast kita bisa berasumsi bahwa private equity ini “jujur”.
Private equity kedua, mampu memenuhi 100% requirement dana mereka. Di sisi lain, mereka pun tampak lihai menguasai bisnis yang ditawarkan ini.

Seems like a no brainer ya. Ofcourse, he’ll choose the 2nd one. Until tiba saatnya negosiasi kontrak. Saat semua klausul sudah disepakati dan tinggal tandatangani saja, saat private equity sudah menyuruhnya utk tandatangan tanpa perlu membaca ulang kontrak itu, ia memaksa utk membaca kontrak itu sekali lagi. Kemudian dia lihat satu pasal antidillution yang secara sepihak diganti oleh pihak private equity tanpa sepengetahuannya.

Tentu saja ia protes. Ia mempertanyakan pasal itu. Pihak private equity pun, dengan bahasa tubuh yang tertangkap agak “mencurigakan”, berdalih bahwa itu ’salah ketik’ dan segera merevisinya.
Melihat keadaan ini, kini ia jadi ragu. Apakah dia bisa mempercayai private equity ini. Dilema pun tercipta. Apakah dia sebaiknya kembali ke private equity pertama yang jujur meskipun dananya lebih kecil.

If you were him, what would you do? Take the money or run?

Group gue pun mengalami dilema kala mendiskusikan kasus ini. Tapi sbnrnya kalau kita sempat memperhatikan, yang namanya kecurigaan itu ga akan pernah bisa lepas kalau seseorang melakukan suatu “hubungan bisnis” (it doesn’t have to be jual beli, bisa saja hubungan ini berupa hutang-piutang, pinjam-meminjam, dll). Even if orang itu berbisnis dengan sodaranya sekalipun, pasti unsur kecurigaan itu ga akan hilang. Kalau mereka menghindari kecurigaan, ga akan pernah terjadi yg namanya bisnis. Kecurigaan itu bukan untuk dihindari, namun untuk di-manage.

Kasus yang ini pun tidak beda, hanya saja mungkin unsur kecurigaannya lebih besar. Namun, selama hal itu masih manageable, knp kita harus mundur.

Akhirnya group gue pun sepakat, we’ll just take the risk. We’ll still make the deal with the 2nd private equity dengan berbagai langkah risk mitigation yang sudah ada di action plan kami berikutnya.
……

Dalam hidup, kita mungkin sering menghadapi kondisi yang serupa. An opportunity comes with all its benefits, drawbacks and also risks. Masalahnya adalah would we be willing to take that opportunity and try to mitigate all its drawbacks. Afterall, opportunity tidak pernah datang 2 kali (unless if you’re just too damn lucky)

Tags: , , , , , , ,

Comments 3 Comments »

Beberapa hari belakangan ini gue ngerasa daerah perut gue terasa agak sesak dibandingkan minggu2 yang telah lalu. Tapi emang ga heran sih. A few days ago, kita abis ngerayain hari raya Idul Fitri. Setiap silaturahmi ke rumah sodara, ga mungkin ga pasti kita musti nyicipin makanan yang udah disiapkan disana. Rata2 sih makanannya ga jauh2 dari opor ayam, rendang, gudeg (kalau di jawa), dsb. Makanan favorit gue semua :-D
 

Gue jadi ingat sebuah email yang sempet beredar ke inbox gue pas ramadhan kemarin. Ceritanya begini:

zrtn-001p3032fd91-tn.jpgDi sebuah kampung terjadi kehebohan. Pas bulan ramadhan ada seorang bocah yang setiap hari suka keliling kampung itu sambil pamer2 ke penduduk kampung itu. Apa yang ia pamerin? Yang dia pamerin adalah es buah yang ia minum, makan2an lezat yang dgn lahap ia santap. Kontan saja hal ini memancing emosi warga. Setiap kali bocah itu diperingati, ia malah nyengir2 semakin menambah emosi warga. Akhirnya kepala desa pun turun tangan. Ia tahan bocah itu sembari ditanyai, apa motivasinya. Meskipun awalnya ia melawan, akhirnya bocah itu pun menjawab…

“Hai Tuan, selama 1 bulan ini mungkin saya memang memancing emosi tuan2 di kampung ini sekalian yang sedang berpuasa. Tapi hal ini belum ada apa2nya dibandingkan apa yang tuan2 lakukan di 11 bulan lainnya. Tuan2 mungkin masih bisa menikmati santapan setelah lewat waktu magrib, namun kami selama 11 bulan itu memang ‘berpuasa’ sehari semalam karena tidak mampu membeli makan. Di kala kami harus menahan lapar dan dahaga selama 11 bulan itu, tuan2 tanpa perasaan terus menerus menggoda kami dengan bukan hanya makanan dan minuman tapi juga gaya hidup tuan2 yang sangat berlebihan sehingga semakin memancing rasa iri dalam diri kami. Apa yang saya lakukan selama 1 bulan ini, tidak ada apa2nya dibandingkan apa yang tuan2 lakukan selama 11 bulan tsb.”

Belum juga genap seminggu sejak Lebaran, tapi gue udah balik ke kebiasaan lama gue yang suka konsumsi berlebihan. Bukan perut membesar yang gue permasalahkan (dari sananya emg udah begini). Tapi semangat Ramadhan yang sudah sebulan terakhir ini gue praktekkan, kemana perginya? Apa ngaruhnya gue selama 1 bulan menahan diri menjaga nafsu tapi di 11 bulan lainnya semuanya gue biarkan bebas.

In the end of the day, apakah Allah masih mau menerima ibadah Ramadhan gue jika di 11 bulan lainnya kelakuan gue tidak mencerminkan semangat Ramadhan sama sekali. Bukan hanya dalam hal menahan lapar dan dahaga, tapi juga dalam hal menahan emosi dan juga hidup yang berlebihan.

This post was created at this location.

Tags: , , , , , , , , ,

Comments No Comments »

Oh my, tonite will be the last tarawih for this Ramadhan. In the past years, I always looked forward to Ramadhan’s ending. But not this year. Is it because I’ve become more dedicated to Ramadhan’s ritual? Not entirely true if I may say.

Last year I spent the whole Ramadhan abroad. I kinda miss the atmosphere of this holy month. Being the only one in class who didn’t have lunch, no one to accompany me for tarawih, breaking my fast alone with no one beside me, having sahur without my family, etc, etc. Practically I did my fasting ritual but emotionally I didn’t experience Ramadhan at all.

Now that I’ve finally meet again with Ramadhan, a month just doesn’t seem to be enough for me. I still miss this atmosphere, this feeling, this environment.

O Ramadhan, please visit me again soon.

Tags: , , , ,

Comments 1 Comment »