Archive for October 27th, 2009

Pada pertengahan tahun 90an perekonomian Indonesia terus mengalami peningkatan seperti yang telah dirasakan oleh negara ini ditahun2 sebelumnya. Industri terus berkembang. Perdagangan terus meningkat. Kurs rupiah stabil tanpa gejolak. Ditengah2 kondisi yang kondusif sedemikian rupa, tidaklah mengherankan jikalau akhirnya ada banyak pengusaha yang kemudian lebih milih ambil hutang dari luar negeri (dalam bentuk USD) karena bunga-nya lebih murah drpd hutang dr dalam negeri (dalam bentuk IDR), untuk bisa lebih mengembangkan bisnisnya. Tapi siapa nyana, tahun 1997 Indonesia pun terperosok ke dalam krisis ekonomi yang akhirnya menyeret2 mereka ke lubang hutang yang semakin membesar akibat kurs rupiah yang sebelumnya stabil berubah menjadi mata uang yang terus anjlok seakan-akan tiada bernilai. Mereka yang tadinya hutang 1Milyar rupiah (sblm krisis: 1 USD = 2.000 IDR), jadi berubah hutangnya menjadi 10M (setelah krisis: 1 USD = 20.000 IDR). 900% kenaikannya !!!

zrclip-001p340803e4.pngDi amerika pada akhir tahun 90an dan awal tahun 2000an industri teknologi, terutama yang berbasis web, sedang berkembang secara pesat. Banyak pebisnis yang mencoba peruntungan mereka di bisnis web dan teknologi yang sedang berkembang ini, dan tidak sedikit pula yang merasakan hasilnya. Melihat perkembangan ini, pasar saham pun merespon positif terhadap trend di sektor ini. Saham2 perusahaan yang berbasis web dan teknologi terus mengalami peningkatan nilai. Akhirnya banyak spekulasi yang terjadi. Para pemain saham rela membeli saham2 perusahaan ini tanpa peduli terhadap ukuran2 tradisional yang biasa mereka pakai dalam mengambil keputusan untuk membeli suatu saham seperti price-to-earning-ratio, return-on-asset, dll. Padahal performance suatu perusahaan seperti itu amat sangat bergantung kepada pertumbuhan ekonomi karena bagi rata2 perusahaan itu pertumbuhan itu lebih penting daripada profit.Lihatlah amazon.com dan google.com yang tidak punya laba di awal2 pembentukannya namun mereka lebih fokus ke growth bisnis mereka. Sehingga timbul istilah growth over profit mentality untuk sektor tersebut. Tapi siapa nyana pada thn 1999 - 2000 pemerintah US menaikkan interest rate sebanyak 6 kali sehingga berdampak pada pelambatan laju ekonomi. Alhasil growth yang diharapkan oleh para pebisnis dotcom ini pun tidak terealisasi. Akhirnya terjadilah dot-com bubble, dimana banyak perusahaan ini yang gulung tikar dan banyak pemegang saham yang merugi.

Menjelang berakhirnya dekade 2000an, harga perumahaan di US terus meningkat karena ditunjang oleh bunga KPR yang amat sangat ringan dan mudah prosesnya yang disebut sebagai subprime mortgage. Alhasil banyak pihak yang berlomba2 untuk mengambil (dan juga memberikan) pinjaman KPR untuk membeli rumah yang harganya naik terus tersebut. Tapi siapa nyana pada akhirnya para pengutang mortgage (KPR) ini tidak mampu membayar hutang mereka karena tingkat suku bunga yang terus meningkat (yang sbnrnya diakibatkan juga oleh kebijakan perang US ke timur tengah) sehingga secara massal mereka terpaksa harus menjual rumah2 mereka tersebut (sbg jaminan KPR tersebut) sehingga terjadilah penurunan harga rumah dan terciptalah housing bubble yang men-trigger terjadinya subprime mortgage crisis yang dampaknya masih terasa hingga kini.

Melihat fenomena diatas, tidaklah heran jika akhirnya banyak ungkapan di kalangan orang keuangan yang berbunyi: “bad debts are made in good times”. Lihatlah betapa seringnya orang2 itu terlena pada saat ekonomi sedang bagus2nya dan mereka menjadi kurang perhitungan dalam mengambil keputusan bisnisnya (bahkan cenderung mengambil tindakan spekulatif yang beresiko tinggi). Dan ketika ekonomi berbalik arah, there’s no way out for them.

Kalau menurut saya sih, paling tepat ungkapan itu seharusnya bad decisions are made in good times. Karena seringkali kita take for granted segala “kenikmatan” ataupun “kemudahan” yang kita dapatkan dalam hidup ini. Dan kita tidak pernah memperhitungkan, sekiranya “kenikmatan” ataupun “kemudahan” itu tiba2 diambil secara mendadak dari kita. Alhasil, kita jadi terlantar dan menderita seperti kasus krisis2 diatas.

Manusia pun tidak luput dari kesalahan yang serupa dalam kehidupan sehari-hari. Di saat badan kita sedang sakit, kita suka menyesali kenapa kita tidak menjaga kesehatan di kala masih sehat. Di saat keuangan sedang susah, kita suka menyesali kenapa kita tidak menabung di kala masih kaya. Di saat kita sudah tidak punya cukup waktu untuk orang tercinta kita, kita suka menyesali kenapa kita tidak meluangkan lebih banyak waktu di kala masih senggang. Dan masih banyak hal lain yang bisa menggambarkan betapa manusia cenderung mengambil “bad decision” terutama di saat “good times”. Oleh karena itu jangan tunggu sampai terjadi “bad times” untuk mengambil the right decision in life.

Blogged with the Flock Browser

Comments No Comments »