Archive for September, 2009

Beberapa hari belakangan ini gue ngerasa daerah perut gue terasa agak sesak dibandingkan minggu2 yang telah lalu. Tapi emang ga heran sih. A few days ago, kita abis ngerayain hari raya Idul Fitri. Setiap silaturahmi ke rumah sodara, ga mungkin ga pasti kita musti nyicipin makanan yang udah disiapkan disana. Rata2 sih makanannya ga jauh2 dari opor ayam, rendang, gudeg (kalau di jawa), dsb. Makanan favorit gue semua :-D
 

Gue jadi ingat sebuah email yang sempet beredar ke inbox gue pas ramadhan kemarin. Ceritanya begini:

zrtn-001p3032fd91-tn.jpgDi sebuah kampung terjadi kehebohan. Pas bulan ramadhan ada seorang bocah yang setiap hari suka keliling kampung itu sambil pamer2 ke penduduk kampung itu. Apa yang ia pamerin? Yang dia pamerin adalah es buah yang ia minum, makan2an lezat yang dgn lahap ia santap. Kontan saja hal ini memancing emosi warga. Setiap kali bocah itu diperingati, ia malah nyengir2 semakin menambah emosi warga. Akhirnya kepala desa pun turun tangan. Ia tahan bocah itu sembari ditanyai, apa motivasinya. Meskipun awalnya ia melawan, akhirnya bocah itu pun menjawab…

“Hai Tuan, selama 1 bulan ini mungkin saya memang memancing emosi tuan2 di kampung ini sekalian yang sedang berpuasa. Tapi hal ini belum ada apa2nya dibandingkan apa yang tuan2 lakukan di 11 bulan lainnya. Tuan2 mungkin masih bisa menikmati santapan setelah lewat waktu magrib, namun kami selama 11 bulan itu memang ‘berpuasa’ sehari semalam karena tidak mampu membeli makan. Di kala kami harus menahan lapar dan dahaga selama 11 bulan itu, tuan2 tanpa perasaan terus menerus menggoda kami dengan bukan hanya makanan dan minuman tapi juga gaya hidup tuan2 yang sangat berlebihan sehingga semakin memancing rasa iri dalam diri kami. Apa yang saya lakukan selama 1 bulan ini, tidak ada apa2nya dibandingkan apa yang tuan2 lakukan selama 11 bulan tsb.”

Belum juga genap seminggu sejak Lebaran, tapi gue udah balik ke kebiasaan lama gue yang suka konsumsi berlebihan. Bukan perut membesar yang gue permasalahkan (dari sananya emg udah begini). Tapi semangat Ramadhan yang sudah sebulan terakhir ini gue praktekkan, kemana perginya? Apa ngaruhnya gue selama 1 bulan menahan diri menjaga nafsu tapi di 11 bulan lainnya semuanya gue biarkan bebas.

In the end of the day, apakah Allah masih mau menerima ibadah Ramadhan gue jika di 11 bulan lainnya kelakuan gue tidak mencerminkan semangat Ramadhan sama sekali. Bukan hanya dalam hal menahan lapar dan dahaga, tapi juga dalam hal menahan emosi dan juga hidup yang berlebihan.

This post was created at this location.

Tags: , , , , , , , , ,

Comments No Comments »

Oh my, tonite will be the last tarawih for this Ramadhan. In the past years, I always looked forward to Ramadhan’s ending. But not this year. Is it because I’ve become more dedicated to Ramadhan’s ritual? Not entirely true if I may say.

Last year I spent the whole Ramadhan abroad. I kinda miss the atmosphere of this holy month. Being the only one in class who didn’t have lunch, no one to accompany me for tarawih, breaking my fast alone with no one beside me, having sahur without my family, etc, etc. Practically I did my fasting ritual but emotionally I didn’t experience Ramadhan at all.

Now that I’ve finally meet again with Ramadhan, a month just doesn’t seem to be enough for me. I still miss this atmosphere, this feeling, this environment.

O Ramadhan, please visit me again soon.

Tags: , , , ,

Comments 1 Comment »

Selesai juga minggu ini OJT gw ke Tresuri ama Internasional. Mulai lg dhe classical training yg mayan bikin ngantuk apalagi pas puasa gini. Kali ini topiknya mengenai Consumer Product.

Ada 1 produk yg namanya CCC (cash collateral credit) yg mnrt gw unik.

Jadi kalau misalnya kita punya simpanan sejumlah 1M di bank, maka kita bisa minta pinjaman ke bank itu dgn pake simpanan itu sbg jaminan (collateral).

Rada aneh jg sih gue pikir. Kalau dia punya simpanan 1M knp ga dia tarik aja uangnya itu drpd ngutang gt.

Tnyt produk ini mayan laku dipasaran, despite bunganya besar. Satu hal yg tnyt mayan unik di masyarakat Indo: kalau punya utang, org Indo jd makin disiplin dlm mengatur cash flownya.

Krn alasan itulah org2 seneng pinjem CCC drpd menarik depositonya. Kalau dia tarik 100 jt dr depositonya, ga jelas kpn duit 100 jt itu bakal bisa kekumpul lg. Tp kalau dia ngutang 100jt maka mau ga mau dia harus disiplin mengatur cashflow supaya utang itu lunas tepat waktu.

At the end of the day, org yg ambil utang CCC masih pegang simpanan yg utuh (dan utang yg lunas) sementara yg nggak ambil utang malah ms blm bs ngumpulin uang sejumlah tarikan yg dia ambil sblmnya.

Artinya yg mrk beli dari CCC ini adalah “motivasi”

Kalau kita dikasih sebuah paksaan (read: motivasi), maka kita jd lebih disiplin utk mencapainya. Kalau ga ada paksaan, ga tau kapan dhe harapan kita itu bs tercapai.

Kalau kita lihat didunia ini, yang “jualan motivasi” kayak bank gini ada banyak lho. Contoh lain mgkn adalah sekolah. Sekolah itu bukan jualan ilmu, krn ilmu itu bs di dpt dr bc buku aja dirumah. Tp 1 hal yg membedakan bljr di rumah dan bljr di sekolah adl: di sekolah kita dikasih homework ama exam. Alhasil murid2 jd “terpaksa” utk bljr supaya bisa lulus dan dpt ijazah.

Kalau “bisnis motivasi” macam ini laku di pasar, apakah berarti scr alami sifat dasar manusia itu adalah ga disiplin(?)

Comments 5 Comments »