Pernah sekali gue nyupirin mobil temen gue, anak Singapore, waktu gue masih tinggal disana. Ketika mobil selesai gue parkir, gue bingung gimana caranya bayar parkir disini sampai akhirnya temen gue ngeluarin sebuah kartu warna ungu lalu ia bolong2in. Ternyata itu Parking Coupon yang musti ditaruh di mobil dkt jendela kalau mau parkir di Singapore. Dengan menggunakan kartu itu, mereka udah harus memperkirakan in advance berapa lama dia mau parkir mobilnya.
Sebagai orang Indonesia yang nggak terbiasa dengan sistem parkir kayak begini gue langsung berpikir “aneh banget sih sistemnya. masa kita udah harus mengira2 berapa lama bakal parkir disini waktu kita baru nyampe”. On the contrary, gue jg kebayang kalau sistem kayak gini sebenarnya ga cm berlaku di Singapore tapi juga di negara lain kayak Amrik dimana kita harus bayar parkir kita diawal, disesuaikan dengan perkiraan kita berapa lama kita akan parkir disana, dgn masukin koin ke mesin parkir (yg kayak ada di film2 itu lho).
Gue pernah menanyakan hal ini ke bokap yang waktu mudanya emang pernah internship di Manhattan, New York. Kata bokap, yah memang begitulah. Makanya orang2 di Manhattan jarang ada yang suka lembur ampe malam kayak orang2 Indo. Karena mereka udah menetapkan dari pagi, mau berapa lama stay di kantor hari itu. Meskipun kebiasaan tepat waktu itu pula yang menyebabkan subway disana rame gila2an kalau jam brgkt kantor dan pulang kantor. Kalau kata bokap gue, kalau dilihat dari atas gedung, sblm jam pulang kantor tuh jalanan sepi kosong, tapi pas jam pulang kantor orang2 itu kayak semut2 yang rebutan masuk ke kolong tanah (read: subway). Kalau ternyata ada keperluan lembur yang mendadak, yah orang yang bawa mobil itu musti balik ke parkiran dan masukin koin tambahan. Tapi tetep aja dia harus memperkirakan berapa lama dia akan lembur malam itu.
Beda banget ama di Indo, dimana kita (terutama gue) bebas aja membuang2 waktu because we take it for granted. Gak ada hukuman / punishment yang berarti kalau kita menghambur2kan waktu itu begitu saja. Efek dominonya akhirnya berdampak pada kebiasaan hidup kita. Misalnya ada kerjaan yg loadnya lebih byk dr biasanya di kantor, kita gak ada motivasi untuk meningkatkan tempo kerja kita supaya bisa selesai tepat waktunya. Yang ada malah motivasi untuk lembur karena *mungkin* justru bisa dapet uang lembur dari kantor dengan pulang telat dari kantor. Ujung dari segala ujung efek domino ini adalah satu hal, efektifitas. Padahal efektifitas kerja inilah yang menjadi motor penggerak peningkatan GDP per capita suatu bangsa, yang secara teori harusnya turut meningkat kesejahteraan masyarakat.
Sesuatu hal yang sederhana tapi menunjukkan satu hal intangible yang dimiliki oleh bangsa mereka tapi kurang dimiliki oleh bangsa Indonesia dan memiliki kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan bangsa, budaya menghitung waktu.


Entries (RSS)
Ngomong2 tentang menghitung waktu, HAPPY BIRTHDAY YA, JAR!! Semoga di sisa waktu-mu yang tersisa, semakin besar kebijakan dan ilmu yang kau dapat dan sumbangkan (hueleh.. resmi banget :p)
Btw, di Polandia juga pakai sistem parkir seperti yg ditulis di postingan lu ini. Di sini bisa pakai kartu atau masukkin sejumlah koin dimana 1 jam parkir seharga 3 zloty (+/ Rp 10.000). Jadi ya, biar nggak boros (merugi :p), emang harus memperkirakan berapa lama mau parkirnya. Tapi enaknya, biaya parkir tidak diberlakukan alias gratis setelah jam 6 sore dan di akhir pekan.. Jadi, nggak ada alasan malas lembur dari segi parkir sih, kalau case di Poland ini.
Once again, SELAMAT ULTAAAHHH :))
wah kalau diatas jam 6 sore parkirnya gratis, banyak yang suka jalan malem2 dong disana pake mobil …
eniwei, TERIMA KASIH MAMA JOJO :))
topik ini memang sengaja keluar menjelang hari ultah gue, tp dgn “case study” yang tidak berhubungan ama ultah biar ga terlalu kentara :p
personally like this one.
gw ada masalah dengan ‘menghargai waktu’ soalnya
ah masa sih uni kanti punya masalah ama waktu? kyknya selalu on time kalau ngerjain report :p