Archive for July, 2009

memberidanmenerima[1].jpgBaru aja pulang abis subuhan di mesjid deket rumah ama Bokap. Sembari jalan kaki pagi, gue ama bokap banyak ngobrol2 n diskusi di tengah perjalanan pulang. Kemudian topik pembicaraan pun mengarah ke topik moral, dimana bokap sempat menyinggung kalau kerja dimana pun (terutama banking) itu harus mengutamakan moral, kalau nggak nanti jadinya kayak investment manager yang suka ngejar2 nasabah buat investasi dengan iming2 return yang gede tapi menyembunyi2kan resiko yang ada di investasi tersebut.

Lalu bokap cerita (meskipun mungkin ga bgitu nyambung dgn kasus investment manager diatas, tapi masih berhubungan dengan moral). Beberapa waktu yang lalu, bokap sempet makan di warung padang dekat sebuah mesjid yang emang biasa bokap samperin buat solat. Tanpa sengaja, bokap dengar pembicaraan pemilik warung itu dengan seseorang di telpon karena memang orang itu nelpon-nya di deket2 bokap. Ternyata si pemilik warung itu lagi nasehatin keponakannya yang kayaknya lagi bimbang antara mau ngebantuin sodaranya atau tidak. Jadi gini kira2 nasehatnya: “Udah kamu kerja aja sekarang, fokus untuk mencari duit. Kamu ga usah pikirin itu permintaan2 famili2 kamu. Toh waktu kamu kesusahan kemarin ga ada yang bantuin kamu, padahal dulu kamu udah banyak ngebantu mereka. Boro2 bantuin kamu, jenguk aja nggak ada. Jadi mendingan kamu pikirin diri kamu sendiri aja skrg. Cari duit buat anak, istri kamu.”

Waktu bokap cerita begitu, to be honest sekilas ga ada yang salah tuh di benak gue akan nasihat tersebut. Terus bokap bilang ke gue: “berarti ada sesuatu yang salah”. Apa yang salah? Di mindset kebanyakan orang (terutama gue), kalau kita ngebantu orang lain, ada pengharapan untuk mendapat balas budi dari orang lain tersebut. Padahal, kata bokap, kalau kita memang pengen ngebantu orang lain yah yang ikhlas2 saja. Ga usah mengharapkan orang lain itu bakal membalas kebaikan ke kita. Jadi di setiap kesempatan, kalau memang ada peluang untuk berbuat kebaikan maka lakukanlah, tanpa berharap untuk mendapatkan balasan akan kebaikan yang kita lakukan tersebut.

Sesuatu hal yg sering kali, gue lupa :(

Tags: , , ,

Comments No Comments »

Badan cape, pegel2, and linu dimana2. Maklumlah gue baru pulang dari secapa (sekolah calon perwira) polri di sukabumi. Semingguan gue disana buat ngikutin latihan kesamaptaan. Alhasil, gue lost contact ama dunia peradaban. Tapi berhubung latihannya di “perkampungan” polisi akhirnya yah ada2 aja info yang terdengar. Dan cukup mengagetkan pula (sekaligus memprihatinkan). Another bomb strikes Jakarta again this time, saat gue masih ada di Sukabumi.

Sasaran bom kali ini adalah 2 hotel terkemuka di kawasan Mega Kuningan, JW Marriot (again!!) dan Ritz-Carlton. Sebenarnya waktu gue masi secapa, sempat terdengar berita mengenai satu bom lagi di daerah Muara Angke. But apparently it was a false alarm.

Sungguh disayangkan sekali, karena (selain memakan korban luka dan jiwa) bom ini terjadi pas disaat ekonomi negara sedang stabil2nya, pemilu kita terlaksana scr lancar n damai, dan juga selang sehari saja kita akan kedatangan tamu dari UK tim sepakbola MU. Alhasil, semuanya jadi berantakan dhe. Tapi yah memang bgitulah yang namanya strategi org jahat kyk teroris ini. Sebisa mungkin harus bisa menghasilkan efek domino yang sebesar2nya.

Ambil aja salah satu efek dari bom ini, yakni dibatalkannya kedatangan tim MU ke jakarta. Efek dominonya, perusahaan sponsor rugi karena udah ngeluarin biaya promosi, panitia rugi karena udah ngeluarin biaya gila2an untuk benerin stadion, nyiapin keamanan yang maksimal, logistik yang pasti banyak banget item2nya, belum lagi calon penonton dari luar kota yang terpaksa udah ngeluarin duit buat pesen hotel ama tiket pesawat, terus yang bikin gue trenyuh adalah saat melihat pedagang2 yang udah ngeluarin duit byk buat beli kaos2 MU utk dijual pada saat pertandingan namun akhirnya gagal, dll. Dikabarkan kerugiannya yang bisa dihitung saja mencapai 30M rupiah. Ini baru dari satu contoh saja. Contoh dampak lain adalah jatuhnya harga2 saham ataupun nilai tukar mata uang rupiah yang bisa mengakibatkan gonjang ganjing perekonomian. Belum lagi efek2 lain yang sifatnya non-monetary ataupun intangible seperti jatuhnya kepercayaan masyarakat luar terhadap keamanan negara Indonesia, dll.

Meskipun ini bukanlah suatu tindakan yang terpuji, namun tetap terdapat pelajaran yang dapat kita jadikan contoh dalam hidup kita:

If we want to make an impact in every action that we take, consider the domino effect of our action.

Orang2 yang cara berpikirnya hanyalah transactional-minded saja, atau short-minded, ataupun materialistic-oriented, pasti hanya mendasarkan decision making mereka berdasarkan hal2 yang bersifat materialistik ataupun jangka pendek saja. Padahal ada efek2 lain diluar itu yang juga memiliki dampak dalam hidup mereka. Contohnya, sewaktu gue di secapa salah seorang instruktur disana cerita kalau di Indonesia ini hanya ada 1 org yang bisa menggambar sketsa wajah seorang tersangka dgn hanya berdasarkan ciri2 yang disampaikan oleh saksi (yg kyk ada film2 itu lho). Sayangnya, orang ini nggak mau share ilmunya itu ke orang lain. Kalau hanya sekedar melihat pertimbangan material, tentu saja keputusan ini terlihat masuk di akal. Tapi seandainya orang itu mau melihat efek2 lain yang ada dibelakangnya seperti kemungkinan dipanggil sebagai pembicara di seminar, atau menjadi dosen di kampus2 tertentu, serta kemungkinan kenaikan karir kalau ia mau share ilmunya, dll, tentunya ia akan mengambil kputusan yang berbeda dr skrg. Akibatnya skrg, karir org itu mentok sgitu2 aja karena selain org banyak yg kurang simpatik ama dia, ga ada org lain yang bisa gantiin fungsi dia sehingga dia pun akhirnya ga bisa naik karirnya.

Oleh karena itu, jgn sampai ketularan fikiran pendek seperti itu. Cobalah melihat efek domino dari setiap keputusan yang kita buat.

Comments No Comments »

21902[1].jpgPernah sekali gue nyupirin mobil temen gue, anak Singapore, waktu gue masih tinggal disana. Ketika mobil selesai gue parkir, gue bingung gimana caranya bayar parkir disini sampai akhirnya temen gue ngeluarin sebuah kartu warna ungu lalu ia bolong2in. Ternyata itu Parking Coupon yang musti ditaruh di mobil dkt jendela kalau mau parkir di Singapore. Dengan menggunakan kartu itu, mereka udah harus memperkirakan in advance berapa lama dia mau parkir mobilnya.

Sebagai orang Indonesia yang nggak terbiasa dengan sistem parkir kayak begini gue langsung berpikir “aneh banget sih sistemnya. masa kita udah harus mengira2 berapa lama bakal parkir disini waktu kita baru nyampe”. On the contrary, gue jg kebayang kalau sistem kayak gini sebenarnya ga cm berlaku di Singapore tapi juga di negara lain kayak Amrik dimana kita harus bayar parkir kita diawal, disesuaikan dengan perkiraan kita berapa lama kita akan parkir disana, dgn masukin koin ke mesin parkir (yg kayak ada di film2 itu lho).

Gue pernah menanyakan hal ini ke bokap yang waktu mudanya emang pernah internship di Manhattan, New York. Kata bokap, yah memang begitulah. Makanya orang2 di Manhattan jarang ada yang suka lembur ampe malam kayak orang2 Indo. Karena mereka udah menetapkan dari pagi, mau berapa lama stay di kantor hari itu. Meskipun kebiasaan tepat waktu itu pula yang menyebabkan subway disana rame gila2an kalau jam brgkt kantor dan pulang kantor. Kalau kata bokap gue, kalau dilihat dari atas gedung, sblm jam pulang kantor tuh jalanan sepi kosong, tapi pas jam pulang kantor orang2 itu kayak semut2 yang rebutan masuk ke kolong tanah (read: subway). Kalau ternyata ada keperluan lembur yang mendadak, yah orang yang bawa mobil itu musti balik ke parkiran dan masukin koin tambahan. Tapi tetep aja dia harus memperkirakan berapa lama dia akan lembur malam itu.

Beda banget ama di Indo, dimana kita (terutama gue) bebas aja membuang2 waktu because we take it for granted. Gak ada hukuman / punishment yang berarti kalau kita menghambur2kan waktu itu begitu saja. Efek dominonya akhirnya berdampak pada kebiasaan hidup kita. Misalnya ada kerjaan yg loadnya lebih byk dr biasanya di kantor, kita gak ada motivasi untuk meningkatkan tempo kerja kita supaya bisa selesai tepat waktunya. Yang ada malah motivasi untuk lembur karena *mungkin* justru bisa dapet uang lembur dari kantor dengan pulang telat dari kantor. Ujung dari segala ujung efek domino ini adalah satu hal, efektifitas. Padahal efektifitas kerja inilah yang menjadi motor penggerak peningkatan GDP per capita suatu bangsa, yang secara teori harusnya turut meningkat kesejahteraan masyarakat.

Sesuatu hal yang sederhana tapi menunjukkan satu hal intangible yang dimiliki oleh bangsa mereka tapi kurang dimiliki oleh bangsa Indonesia dan memiliki kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan bangsa, budaya menghitung waktu.

Comments 4 Comments »