Suatu ketika, disaat gue sedang menikmati masa liburan gue di Jakarta sblm trimester baru pendidikan MBA gue dimulai, gue menghabiskan malam terakhir gue di Jakarta with a close friend of mine sblm gue terbang balik ke Singapore esok harinya. We chatted quite a while at that time. Then he asked me: “Jar, apa 3 keinginan terbesar lo dalam hidup?”

A simple question that quite stroke my mind. Well, ya tentu aja gue sering memikirkan ataupun mengangankan banyak hal yg ingin gue accomplish dalam hidup. Tapi kalau ditanya 3 yg paling gue inginkan, gue belum pernah nyoba memprioritaskan mana 3 hal yg paling utama dari sekian banyak angan2 itu.

Then, I responded: “emang kenapa Cuk?” …. (kebetulan temen gue ini nama lengkapnya J*ncuk).

“Dalam hidup ini kita musti punya keinginan besar yg ingin kita raih. Dari situ lalu kita merencanakan hidup ini secara backward. Apa2 saja yg sebelumnya harus kita lakukan dalam jangka panjang utk dapat mewujudkan keinginan itu. Kemudian mundur lagi menjadi tujuan jangka menengah, dan kemudian tujuan jangka pendek.”

Nice philosophy. Terus gue tanya: “emg apa 3 cita2 terbesar lo?” …. Tampaknya temen gue ini baru memiliki 2 cita2 besar dalam hidupnya jadinya cuma ada 2 jawaban dia … “Pertama … beli Ferrari … Kedua … beli Ferrari”.

gue: “Lah ngapain beli 2 Ferrari?”
j*ncuk: “Yg pertama utk gue …. yg kedua utk bokap”

Fast Forward to early June 2009. I already got my MBA.

I attended this motivational seminar at Jakarta. The main topic was about “being success”. Seperti motivational seminar lainnya, tentu saja salah satu hal yang menjadi kunci utama adalah …. motivasi (surprise !!)

Yg menjadi faktor pendukung motivasi ini ada 3 hal:
- What do we want to be (self reflection)
- What do we want to have (ownership)
- What do we want to be able to do (self capability)

Meskipun ketiga faktor ini berbanding lurus dgn motivasi, namun ternyata tidak semua berbanding lurus dgn kesuksesan diri. Ternyata sekedar memiliki motivasi saja tidak cukup sebagai bekal dalam hidup ini. Kita jg harus memiliki faktor yang tepat utk mendasari motivasi kita tersebut.

Diantara 3 faktor motivasi diatas, salah satu diantaranya justru bisa merusak motivasi kita karena cenderung akan mendorong diri kita menjadi lebih materialistic, transactional-focused, short-term-oriented dan juga ego-centric. It doesnt take a genius to know kalau faktor yang dimaksud ini adalah “what to have”. Kalau kita bisa menekan faktor yang satu ini, sembari meningkatkan fokus pada dua faktor lainnya, “what to be” dan “what to be able to do”, maka motivasi yang kita miliki akan lebih dapat menghantarkan diri kita menuju kesuksesan diri.

Rewind back to the time when I was having this conversation. The night before I flew back to Singapore.

j*ncuk: “nah loe udah tau keinginan besar gue. Skrg lo udah kepikiran blm apa yg jadi keinginan besar lo?”
gue: “baru dua hal cuk”

……….

“gue pengen mengembangkan panti asuhan keluarga gue supaya anak2 yatimnya bisa maju dan sukses, dan”

“gue pengen mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia”

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>