So some say it should’ve been musim kemarau by now, tapi bbrp hari belakangan ini justru hujan lebat terus-terusan mengguyur rumah gue dan meninggalkan hawa dingin yg mayan menyengat. Dan ini bukan kali pertamanya terjadi, karena pada tahun2 sblmnya anomali cuaca yg sama pun sudah sering terjadi. Mungkin sudah saatnya para ahli meteorologi untuk melakukan revaluasi terhadap periode “musim kemarau” dan “musim hujan” di daerah asia tenggara ini. Tapi ya ini hanya sekedar wacana dari seorang awam (read: gue) yang hanya bisa melihat fenomena fisik yg tertangkap oleh panca inderanya tanpa dibekali oleh ilmu pengetahuan yang cukup untuk mendukungnya.

Terlepas dari masalah apakah fenomena perubahan cuaca ini perlu di-follow-up dgn revaluasi periode musim kemarau dan hujan, sebenarnya ada satu hal yang cukup menjadi hal penting untuk diketahui oleh manusia, yakni predictability. Terkait dgn isu diatas, predictability yg terkait dgn kemampuan manusia utk bisa menentukan/menebak dgn tepat apakah saat ini termasuk kedalam masa periode musim hujan atau kemarau, sangatlah penting untuk dijadikan bahan pertimbangan sebagian masyarakat kita untuk mengambil keputusan penting dalam hidupnya.

Sebagai contoh, ambillah seorang petani sawah yg hendak merencanakan penanaman padi di lahan yg ia miliki. Sekiranya petani itu mampu menentukan (mem-predict) dgn penuh keyakinan kapan periode hujan dan kapan periode kering, maka ia akan lebih mampu menyusun perencanaan yang tepat dalam men-schedule-kan kegiatan penanaman padinya. Sebaliknya seorang kontraktor bangunan yang hendak melakukan kegiatan pengecoran di sebuah bangunan yang sedang ia bangun akan sangat bergantung pada cahaya matahari untuk dapat menyelesaikan kegiatan tersebut sehingga akan sangat membantu apabila ia mampu mem-predict apakah bulan ini masuk ke periode musim hujan atau kering. Tidaklah menjadi soal apakah salam setahun periode musim hujan itu lebih panjang durasinya dibanding musim kering atau sebaliknya. Yang penting adalah kemampuan untuk mem-predict-nya ….. The Predictability.

Cobalah kita bayangkan sekiranya petani dan kontraktor tersebut tidak mampu mem-predict keadaan cuaca. Sang petani dapat mengalami gagal panen karena salah perhitungan dalam perencanaan penanaman padinya. Sang kontraktor bisa gagal mencapai deadline yang ia janjikan karena salah perhitungan dalam pengerjaan kegiatan pengecorannya. Artinya, ada COST yang musti mereka absorb karena ketidakmampuan mereka dalam mem-predict tersebut. Ini baru contoh kecil dari 2 orang individu. Bayangkan kalau semua orang Indonesia tidak memiliki kemampuan untuk mem-predict seperti mereka. Betapa besarnya pemborosan yang dapat tercipta setiap tahunnya. Pemborosan yang seharusnya bisa dialihkan untuk kegiatan2 lain yang lebih menciptakan value add bagi masyarakat sekitar kita.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>