Archive for June, 2009

Mungkin udah hampir setahun lamanya sejak gue menjalani exchange program gue ke Copenhagen Business School pertengahan tahun lalu di Denmark. Sebuah kesempatan studi yang justru lebih banyak gue manfaatkan untuk jalan2 dan bersenang2 instead of beneran belajar. Hehehehehe. Kalau back in Singapore gue selalu direpotkan oleh urusan exchange rate kalau gue abis balik dari Indo atau saat gue pengen jalan2 nyeberang ke Johor Bahru (Malay), di Eropa ini gue ga terlalu ribet memikirkan hal itu karena most of the countries disana pake currency yang sama, Euro. Memang sih Denmark, tempat gue tinggal masih menggunakan mata uang mereka sendiri, Kroner, tapi selama perjalanan gue mengelilingi 7 negara di benua tersebut gue ga harus sampai memikirkan 7 currency yang berbeda2.

Di ilmu economy sendiri ada yang namanya Holy Trinity. Istilah ini menggambarkan sebuah konsep ekonomi dimana pengaturan uang sebuah negara bisa menerapkan 2 dari 3 sifat dibawah ini:
- fixed exchange rate
- independent monetary policy
- free capital flow

Gue ga akan terjun terlalu teknis kedalam masing2 sifat dari Holy Trinity tersebut. Untuk sekedar memberi penekanan terhadap pernyataan gue sebelumnya, sebuah negara tidak bisa menerapkan ketiga sifat ini sekaligus. Mereka hanya bisa memilih 2 diantara ketiga hal tersebut. Untuk kasus negara2 yang menggunakan mata uang Euro, yang mereka pilih adalah fixed exchange rate (dgn sama2 menggunakan Euro, artinya mereka udah mematok exchange rate yang fixed diantara mereka) dan free capital flow (uang bebas keluar masuk negara mrk). Untuk itu mereka harus mengorbankan kemerdekaan mereka dalam menentukan kebijakan moneter dalam negeri mereka (independent monetary policy). Kita bisa pandang hal ini sebagai sebuah COST untuk dapat menciptakan single currency seperti sekarang ini di eropa.

Negara2 yang turut berpartisipasi dlm menerapkan Euro ini bukanlah negara2 yang bodoh. Kita lihat didalamnya ada Jerman, Perancis, Belanda, dll. Bahkan negara2 di benua Eropa yang pada awalnya belum bergabung, kini satu per satu mulai bergabung kedalam “persekutuan Euro” ini beberapa tahun belakangan ini. Kalau mereka sampai rela membayar COST seberharga itu, berarti benefit yang mereka terima tentu sedemikian besarnya sehingga dapat menutupi cost mereka itu.

Satu keuntungan dari diterapkannya mata uang tunggal yang ingin gue highlight saat ini adalah ….. predictability.

Ofcourse ada hal2 lain yang mendasari pertimbangan mereka seperti alasan2 politis untuk menyaingi supremasi USD sbg mata uang dunia, dll. Tapi gue ga akan menyentuh hal itu saat ini.

Back in the days, saat mata uang Euro belum terlahir, perusahaan2 eropa yang banyak bergantung kepada pergerakan valas (terutama mereka yang banyak meng-eksport produk buatan mereka ke negara lain), seperti BMW, Peugeot, dll, setiap tahun selalu saja dibuat cemas apabila terjadi pergerakan valas yang signifikan. Kalau mata uang mereka menguat, mereka rugi, karena pemasukan mereka dalam bentuk mata uang asing saat dikonversi ke dalam negeri ternyata jadi lebih kecil. Kalau mata uang mereka melemah, mereka pun rugi, karena butuh uang lebih banyak untuk membayar transportasi, warehouse, dan tetek bengek mereka lainnya di luar negeri. Alhasil, mereka kehilangan kemampuan mereka utk dapat mengkalkulasi perhitungan bisnis mereka secara lebih akurat. Untuk menghadapi tantangan ini akhirnya perusahaan2 ini melakukan hedging dgn membeli options ataupun forward contract. Artinya, untuk dapat menghadapi masalah unpredictability ini, ada sejumlah cost yang harus dibayar. Sebuah pemborosan yang besar. Bayangkan berapa banyak uang yang harus dikeluarkan oleh perusahaan2 besar ini apabila digabungkan semuanya. Seharusnya uang2 ini dapat dimanfaatkan untuk hal lain yang lebih bermanfaat dan memberikan value add bagi masyarakat dunia.

Kini setelah Euro diterapkan, pemborosan ini dapat dikurangi secara signifikan (meskipun tidak hilang total). Dengan digunakannya mata uang yang sama dengan beberapa negara yang lain, tidak lagi timbul kekhawatiran akan pergerakan valas (atleast dengan sesama pengguna Euro). Kondisi ekonomi menjadi sedikit lebih predictable.

Kalau dilihat dari kacamata syariah, kondisi yang lebih predictable ini pun bisa mengurangi tindakan spekulasi dr orang2 yang sifatnya menyerupai judi.

Dan kalau sampai semua negara di seluruh dunia ini menggunakan single currency yang sama seperti Euro di Eropa (maybe we can call it Eartho :p), berarti kemungkinan terjadinya spekulasi valas oleh para spekulan2 itu dan juga resiko valas yang bakal dialami oleh dunia bisnis serta kemungkinan terjadinya pemborosan akibat keharusan untuk melakukan hedging valas ini bisa ditekan hingga level ….. ZERO.

Tags:

Comments No Comments »

So some say it should’ve been musim kemarau by now, tapi bbrp hari belakangan ini justru hujan lebat terus-terusan mengguyur rumah gue dan meninggalkan hawa dingin yg mayan menyengat. Dan ini bukan kali pertamanya terjadi, karena pada tahun2 sblmnya anomali cuaca yg sama pun sudah sering terjadi. Mungkin sudah saatnya para ahli meteorologi untuk melakukan revaluasi terhadap periode “musim kemarau” dan “musim hujan” di daerah asia tenggara ini. Tapi ya ini hanya sekedar wacana dari seorang awam (read: gue) yang hanya bisa melihat fenomena fisik yg tertangkap oleh panca inderanya tanpa dibekali oleh ilmu pengetahuan yang cukup untuk mendukungnya.

Terlepas dari masalah apakah fenomena perubahan cuaca ini perlu di-follow-up dgn revaluasi periode musim kemarau dan hujan, sebenarnya ada satu hal yang cukup menjadi hal penting untuk diketahui oleh manusia, yakni predictability. Terkait dgn isu diatas, predictability yg terkait dgn kemampuan manusia utk bisa menentukan/menebak dgn tepat apakah saat ini termasuk kedalam masa periode musim hujan atau kemarau, sangatlah penting untuk dijadikan bahan pertimbangan sebagian masyarakat kita untuk mengambil keputusan penting dalam hidupnya.

Sebagai contoh, ambillah seorang petani sawah yg hendak merencanakan penanaman padi di lahan yg ia miliki. Sekiranya petani itu mampu menentukan (mem-predict) dgn penuh keyakinan kapan periode hujan dan kapan periode kering, maka ia akan lebih mampu menyusun perencanaan yang tepat dalam men-schedule-kan kegiatan penanaman padinya. Sebaliknya seorang kontraktor bangunan yang hendak melakukan kegiatan pengecoran di sebuah bangunan yang sedang ia bangun akan sangat bergantung pada cahaya matahari untuk dapat menyelesaikan kegiatan tersebut sehingga akan sangat membantu apabila ia mampu mem-predict apakah bulan ini masuk ke periode musim hujan atau kering. Tidaklah menjadi soal apakah salam setahun periode musim hujan itu lebih panjang durasinya dibanding musim kering atau sebaliknya. Yang penting adalah kemampuan untuk mem-predict-nya ….. The Predictability.

Cobalah kita bayangkan sekiranya petani dan kontraktor tersebut tidak mampu mem-predict keadaan cuaca. Sang petani dapat mengalami gagal panen karena salah perhitungan dalam perencanaan penanaman padinya. Sang kontraktor bisa gagal mencapai deadline yang ia janjikan karena salah perhitungan dalam pengerjaan kegiatan pengecorannya. Artinya, ada COST yang musti mereka absorb karena ketidakmampuan mereka dalam mem-predict tersebut. Ini baru contoh kecil dari 2 orang individu. Bayangkan kalau semua orang Indonesia tidak memiliki kemampuan untuk mem-predict seperti mereka. Betapa besarnya pemborosan yang dapat tercipta setiap tahunnya. Pemborosan yang seharusnya bisa dialihkan untuk kegiatan2 lain yang lebih menciptakan value add bagi masyarakat sekitar kita.

Comments No Comments »

Suatu ketika, disaat gue sedang menikmati masa liburan gue di Jakarta sblm trimester baru pendidikan MBA gue dimulai, gue menghabiskan malam terakhir gue di Jakarta with a close friend of mine sblm gue terbang balik ke Singapore esok harinya. We chatted quite a while at that time. Then he asked me: “Jar, apa 3 keinginan terbesar lo dalam hidup?”

A simple question that quite stroke my mind. Well, ya tentu aja gue sering memikirkan ataupun mengangankan banyak hal yg ingin gue accomplish dalam hidup. Tapi kalau ditanya 3 yg paling gue inginkan, gue belum pernah nyoba memprioritaskan mana 3 hal yg paling utama dari sekian banyak angan2 itu.

Then, I responded: “emang kenapa Cuk?” …. (kebetulan temen gue ini nama lengkapnya J*ncuk).

“Dalam hidup ini kita musti punya keinginan besar yg ingin kita raih. Dari situ lalu kita merencanakan hidup ini secara backward. Apa2 saja yg sebelumnya harus kita lakukan dalam jangka panjang utk dapat mewujudkan keinginan itu. Kemudian mundur lagi menjadi tujuan jangka menengah, dan kemudian tujuan jangka pendek.”

Nice philosophy. Terus gue tanya: “emg apa 3 cita2 terbesar lo?” …. Tampaknya temen gue ini baru memiliki 2 cita2 besar dalam hidupnya jadinya cuma ada 2 jawaban dia … “Pertama … beli Ferrari … Kedua … beli Ferrari”.

gue: “Lah ngapain beli 2 Ferrari?”
j*ncuk: “Yg pertama utk gue …. yg kedua utk bokap”

Fast Forward to early June 2009. I already got my MBA.

I attended this motivational seminar at Jakarta. The main topic was about “being success”. Seperti motivational seminar lainnya, tentu saja salah satu hal yang menjadi kunci utama adalah …. motivasi (surprise !!)

Yg menjadi faktor pendukung motivasi ini ada 3 hal:
- What do we want to be (self reflection)
- What do we want to have (ownership)
- What do we want to be able to do (self capability)

Meskipun ketiga faktor ini berbanding lurus dgn motivasi, namun ternyata tidak semua berbanding lurus dgn kesuksesan diri. Ternyata sekedar memiliki motivasi saja tidak cukup sebagai bekal dalam hidup ini. Kita jg harus memiliki faktor yang tepat utk mendasari motivasi kita tersebut.

Diantara 3 faktor motivasi diatas, salah satu diantaranya justru bisa merusak motivasi kita karena cenderung akan mendorong diri kita menjadi lebih materialistic, transactional-focused, short-term-oriented dan juga ego-centric. It doesnt take a genius to know kalau faktor yang dimaksud ini adalah “what to have”. Kalau kita bisa menekan faktor yang satu ini, sembari meningkatkan fokus pada dua faktor lainnya, “what to be” dan “what to be able to do”, maka motivasi yang kita miliki akan lebih dapat menghantarkan diri kita menuju kesuksesan diri.

Rewind back to the time when I was having this conversation. The night before I flew back to Singapore.

j*ncuk: “nah loe udah tau keinginan besar gue. Skrg lo udah kepikiran blm apa yg jadi keinginan besar lo?”
gue: “baru dua hal cuk”

……….

“gue pengen mengembangkan panti asuhan keluarga gue supaya anak2 yatimnya bisa maju dan sukses, dan”

“gue pengen mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia”

Comments No Comments »