…. couldn’t you all have downgraded to first class or jet-pooled or something to get here? ….
Begitulah kurang lebih kata2 yg keluar dari mulut Gary Ackerman, salah satu anggota “DPR”nya amrik dr Democratic Party, kepada tiga org CEO dr 3 perusahaan otomotif raksasa US (GM, Ford and Chrysler), saking gemesnya liat kelakuan mrk yang bener2 tidak tanggap dgn situasi krisis saat ini.
Kalau kita sebagai masyarakat Indo “gemes” melihat kelakuan KPU yang jalan2 keluar negeri utk “melihat” proses pemilu di negara Paman Sam sana, maka liatlah kelakuan CEO-CEO ini yang mengepalai korporat otomotif raksasa dari negara tersebut.
Semenjak terjadinya krisis ekonomi di US, industri otomotif di negara itu terkena dampak yang lumayan significant. Gue dulu sempet berpikiran kalau negara2 yg udah established macam amrik ini pasti sistem public transportationnya bagus. Apparently, I was wrong. Dari hasil ngobrol2 dgn temen2 kul gue disini yg berasal dr Amrik, ternyata sistem transportasi publik di amrik itu jauh dibawah standard singapore ataupun negara2 di eropa. Itulah kenapa pengguna kendaraan pribadi di sana terus meningkat setiap tahunnya. Dan itulah pula kenapa industri otomotif bisa begitu berkembang di amrik.
But now, keadaaan ekonomi amrik sedang terperosok. Masyarakat disana pada menurunkan pengeluaran rumah tangga mereka. Fasilitas kredit (pinjaman) pun kian susah didapatkan dr bank2 ataupun lembaga keuangan lainnya. Alhasil industri2 disana satu per satu mulai berguguran. Dan kini yang sedang hangat2nya dibicarakan adalah industri otomotif ini.
Kalau bicara mengenai sisi ekonomi dari industri otomotif, maka kita tidak bisa terlepas dr rangkaian value chain yang berhubungan dengannya, termasuk didalamnya adalah bisnis gas station, dealer2 mobil, bengkel2, toko2 aksesoris, dll.
Saking besarnya pengaruh industri otomotif ini thdp ekonomi US melalui rangkaian value chain tersebut, GM sampai membuat website yang memberi gambaran betapa negatif dan besar efeknya thdp ekonomi kalau sampai perusahaan otomotif US bener2 bankrut dan run-out-of-business.
Oleh karena itulah, CEO dari GM Ford dan Chrysler sepakat utk meminta bantuan pemerintah US utk membantu mrk keluar dari kesulitan bisnis yang sedang mrk hadapi.
Ironisnya, mrk datang ke Washington utk meminta bantuan itu kpd para wakil rakyat disana tp mrk terbang kesana dgn menggunakan jet pribadi mereka!
Kalau dianalogiin, jadinya seperti kita melihat pengemis keluar dr mobil mercy.
Apa yg mrk lakukan ini really doesnt sound like they are in a financial trouble to me.
Lebih ironisnya lagi, dalam salah satu klausul yg mrk janjikan utk bisa mendapatkan bantuan ini adalah janji kalau mereka akan men-streamline operasional bisnis mrk, mereka akan berhemat2. But look at what they did. Totally, the opposite of what they say.
They didn’t walk the talk.
If I were an employee and saw my President or CEO acted like that, I wouldn’t give a damn shit to any words that come out of their mouth in the future. Dia bisa saja mengeluarkan instruksi kepada segenap jajaran di kantor utk berhemat thdp pengeluaran operasional, tp dgn kelakuan mrk spt itu I wouldn’t give a damn shit…. *tet tot, pengulangan kata damn shit*
Walking the talk memang bukanlah kewajiban seorang CEO semata. Mau dia pegawai kek, guru kek, penjaga kasir kek, manager kek, semua haruslah stood up to what they say. Tetapi scope dan skala dr dampaknya kepada lingkungan sekitar pastilah berbeda.
- A teacher might influence the whole class by walking the talk
(mana mempan murid2 disuruh jujur ngerjain ujiannya mrk kalau tnyt guru mrk sendiri suka curang cari2 tambahan pendapatan dgn minta iuran fiktif kpd anak2 itu), - A manager might influence the whole departement by walking the talk
(mana mempan anak buah disuruh rajin kerjanya kalau si manager sendiri selalu telat dtgnya ke kantor), - A CEO might influence the whole organization by walking the talk,
- A Khalifah might influence the whole nation by walking the talk.
Tetapi sbnrnya diantara itu semua, yang satu inilah mnrt gue yang paling penting dan paling fundamental …..
- A parent might influence the future by walking the talk
Itulah esensi dr pendidikan di rumah bagi seorang anak. Seorang anak bisa saja selalu dinasihati oleh org tuanya mengenai nilai2 kejujuran, tanggung jawab, welas asih, dll. Tapi kalau org tuanya sendiri gak menerapkan nilai2 tersebut, mana mempan hal2 itu utk diserap sama anak2 ini. Padahal justru nilai2 luhur itu lah yang akan menentukan karakter spt apa yang akan terbentuk pada diri si anak ini, suatu saat nanti.
I considered myself lucky enough to have a dad like my father. He used to be a director in one of the biggest bank in Indonesia. Ketika dia masih menjabat, dia sangat strict sama prinsip pribadinya kalau perjalanan dinas adalah perjalanan dinas, its not for family. Dia ga mau keluarga ikutan perjalanan dinas dia (kecuali dgn biaya sendiri). Unlike other of his colleagues yang mgkn senang memanfaatkan kesempatan ini utk turut membawa keluarga mrk serta dalam perjalanan dinas mrk dgn tanggungan ktr.
My father also always taught me to be full of forgiveness. Jangan pernah menyimpan dendam kalau ada org lain yang menyakiti kita. Jangan pernah punya niat buruk utk menyakiti org lain. And he really showed me that he stood up to those words, even to people that did bad things to him in the past.
My father might not know this, but by being consistent to what he said and to his principles, he’s actually giving me the best guidance a father could ever give to his son….. a guidance that is more powerful than a thousand words can ever taught me….
- action speaks louder than words -


Entries (RSS)