“US weekly jobless claims hit 16-year high” …. gitu dhe kurang lebih headline dr berita malam ini saat gue browsing2 di internet pas br plg dr kelas. Ketika pertama kali baca buku makroekonomi buat kuliah Economic Analysis di awal2 studi MBA gue dan liat term jobless claim gue berpikiran “makhluk apaan lagi yah ni” (maklum there’s no such a thing di indo).
Di negara2 yang udah established kyk Amrik dan bbrp di Eropa, buat org2 yang jobless (pengangguran), pemerintah akan menyediakan bantuan kepada mereka setiap bulannya utk menyokong kebutuhan hidup mereka sehari2nya sampai mereka mendapatkan pekerjaan kembali. Istilahnya unemployment benefit. Kalau bingung, drmn pemerintah mrk dpt duitnya buat menyokong program beginian, jawabannya adalah tentu saja … from the taxpayer-lah (kecuali utk Saudi Arabia tampaknya). Makanya itu pajak di negara mereka tinggi2. Nah jobless claim diatas itu adalah indikator ekonomi yang menunjukkan tingkat klaim terhadap unemployment benefit ini in the prevailing week.
Theoretically, kalau jobless claims tinggi, maka itu bisa dijadikan indikasi bahwa kalau ekonomi akan mengalami downtrend atawa penurunan growth. Yah common sense sih, kalau jobless claims tinggi berarti tingkat pengangguran tinggi, kalau tingkat pengangguran tingkat berarti spending masyarakat scr nasional akan menurun, kalau spending masyarakat menurun berarti ekonomi scr makro ga berkembang. Jadi siap2 aja melihat resesi di Amrik kalau gt, yg pasti berdampak ke dunia internasional (ohh noooo!!).
Basically konsep dr unemployment benefit ini niatnya baik. Negara mengakui bahwasanya butuh sebuah mekanisme yang bisa menyalurkan kesejahteraan dr si kaya ke si miskin. Pemerataan/distribusi ekonomi-lah pada intinya.
I have to admit, gue sendiri sih termasuk pro sama kebijakan spt ini pada awalnya (krn gue memang sepaham ama ide pemerataan kesejahteraan) ….. until one day gue sampai di eropa and dengar dgn telinga sendiri gimana pandangan orang2 disana akan kebijakan ini.
Ternyata kebijakan utk memberikan unemployment benefit ini memiliki drawback dimana pemerintah justru seakan2 memberikan insentif kepada masyarakat utk bermalas2an (males kerja maksudnya). Ngapain kerja, lha wong tiap bulan dpt duit dr negara buat hidup. Lagian, krn disokong sama high tax di negara itu, terkadang penghasilan net dr bekerja bisa lebih kecil jumlahnya drpd unemployment benefit dr pemerintah ini. So there’s a lot of incentive to stay unemployed buat org2 di negara itu. Dan yang paling bikin sebel org2 dsana (org2 yg kerja nih maksudnya) adalah, mereka harus bayar tax yg tinggi demi bisa mendanai negara utk menyokong gaya hidup ” para pemalas” ini ![]()
Meskipun ga begitu related, tapi melihat hal ini gue jadi teringat sama problematika rumah singgah di Indo. Rumah singgah di Indo notabene memiliki niat utk “menarik” anak2 jalanan dari jalanan dan memberi mereka kesempatan utk bersekolah dan mengenyam pendidikan. Tapi kenyataannya anak2 ini lebih enjoy berada di jalanan, krn instead of disuruh susah payah belajar, mrk justru bisa mendapatkan duit dgn mengamen di jalanan. Mrk pikir apa untungnya coba disuruh ngitung2 luas segitiga di pr matematika yang musti mrk kerjain di rmh singgah, mendingan ngamen dijalanan dhe, bisa dpt duit buat jajan.
Mindset … yah itu lah masalahnya. Anak2 jalanan ini dan orang2 yang prefer to stay unemployed itu memiliki mindset yang sama. Mereka sama2 berpikir, yg penting kebutuhan saat ini sdh terpenuhi. Mereka ga mikir panjang ke depan, gimana nasib mereka nantinya in the future.
- Si anak jalanan ga mikir, gimana nasib mereka nantinya kedpn kalau mrk ga sekolah (krn mrk pikir, mrk bisa ngandalin hidup terus2an dr mengamen).
- Si pemalas yang ga mau cr kerja ga mikir, gimana nasib mereka nantinya kalau ga mulai cr2 kerja (krn mrk pikir, toh negara nanti bakal menyokong hidup dia koq).
If only we can find a way to shift this mindset away krn sayang bgt, program dgn niat sebaik unemployment benefit diatas justru “disalahartikan” sama orang2 dgn mindset yang salah model begini….


Entries (RSS)