I’ve read numerous casestudies selama studi MBA gue skrg ini. Yet, today pertama kalinya gue ngerasa tersentuh dan terharu sama case study yang musti gue baca. If you think it has something to do with any humanity act or any philanthropic issue, u are wrong. It’s a pure business-oriented case study. It’s about a company called American Cyanamid (which doesnt exist anymore). Perusahaan ini udah lama berdiri sejak tahun 1907 dan bergerak dibidang chemical.
Thn 1994, perusahaan ini dipimpin oleh Albert Costello, yang sdh jd employee di perusahaan ini sejak thn 1957 so bisa dibilang dia memiliki ikatan batin yang kuat ama perusahaan ini. Di thn itu, Costello punya rencana utk swap asset bisnis sama perusahaan lain yang bernama SmithKline Beecham (SKB). Dengan asset swap ini, Costello berharap bisa menciptakan sinergi bisnis di American Cyanamid sehingga mendatangkan manfaat bagi byk pihak (employee, supplier, etc.), terutama utk para shareholder (pemegang saham). Afterall, bukankah tanggungjawab utama seorang CEO itu adl utk meningkatkan kekayaan para shareholders.
“the only social responsibility a law-abiding business has is to maximize profits for the shareholders”
- Milton Friedman
Byk pihak yang optimis jg dgn strategi Costello ini sehingga market bereaksi positif setelah mendengar berita ini dgn naiknya harga saham American Cyanamid dari 40an USD ke 60an USD (50% increase). Seneng dong pastinya para shareholder American Cyanamid.
Apparently, ada perusahaan lain, a bigger company, called AHP (American Home Product) yg diam2 tertarik utk menguasai American Cyanamid ini. Upon hearing the news regarding the swap between American Cyanamid and SKB, mereka lgsg menghubungi management American Cyanamid dan nawarin kalau mrk bersedia membeli saham American Cyanamid dgn harga 95 USD (50% above market price yg saat itu udah sekitar 60an USD).
Gak begitu dijelaskan scr detil knp AHP tertarik utk mengakuisisi mereka, yang pasti kalau AHP jadi membeli American Cyanamid maka hilanglah nama American Cyanamid dari permukaan bumi krn mereka akan merge dgn organisasi AHP. Kemungkinan terjadi layoff pegawai demi penghematan pun terbuka lebar. Belum lagi dampaknya kepada social community krn memang tampaknya ga ada business synergy yang bisa tercipta dr akuisisi ini. Faktor2 inilah yang membuat management American Cyanamid ragu utk menerima pinangan AHP.
Dilema bagi management American Cyanamid. Di satu sisi kalau mereka menerima pinangan AHP, berarti mereka bener2 me-maximize shareholder value krn AHP berani beli saham American Cyanamid dgn harga jauh diatas harga pasar meskipun mgkn mengorbankan stakeholder yang lain (employee, employee’s family, dll). Di sisi lain kalau mereka menolak tawaran AHP dan meneruskan rencana utk swap ama SKB, maka shareholder “cuma” menikmati value senilai 60an USD saja namun stakeholder yang lain agak lebih terjamin kepentingannya.
A dilemma for the management. Kepentingan mana yang musti mereka dahulukan dlm situasi ini.
I bet this kind of thing happened most of the time in our life. Kita dihadapkan oleh pilihan dari 2 kepentingan. Musti milih:
- Nganterin nyokap ke pasar atau nganterin pacar ke mall
- Bantuin bokap benerin mobil atau bantuin temen benerin PC
- Lembur ngerjain kerjaan kantor atau menghabiskan waktu dirumah bersama keluarga
- dll
Kalau organisasi business kayak American Cyanamid punya shareholder (pemegang saham) sbg stakeholder utama mrk, maka stakeholder utama dlm kehidupan kita adalah … God.
Dia-lah yang akan menilai berhasil/tidaknya hidup kita didunia ini. Kepada Dia-lah seharusnya kita memberikan kontribusi maksimal kita dalam hidup ini. Sang Khalik. Dia-lah stakeholder utama kita.
But does that mean kita harus terus2an menempatkanNya as our top priority dlm kehidupan sehari2 kita?
Well, kalau kita ngambil analogi didalam organisasi bisnis maka ada sebuah mekanisme yang bernama stakeholder management. Intinya sih, ini adalah management ekspektasi utk para stakeholder, krn ga selamanya keputusan didalam organisasi itu harus menempatkan pemilik saham (shareholder) sebagai prioritas utamanya.
The same should go for us. Kita pun harus punya stakeholder management utk kehidupan pribadi kita.
Some example to consider:
- Adzan maghrib baru saja berkumandang, saat kamu mau siap2 solat tiba2 istri lo yang sedang hamil tua mengalami kontraksi. Mana yang musti lo dahulukan. Solat dulu. Atau nganterin istri ke rumah sakit dulu dgn konsekuensi solat maghribnya bakal telat.
- Kamu udah bekerja cukup lama dan akhirnya punya tabungan yang cukup utk naik haji. Namun ditahun yang sama, anak lo masuk kuliah. Butuh biaya besar utk membiayai kuliahnya itu. Mana yang lo dahulukan. Naik haji. Atau kuliah anak.
- … etc.
Itulah knp didlm Islam, kita ga hanya diperintahkan ut menjaga Habluminallah (hub manusia dgn Allah), namun juga Habluminannas (hub manusia dgn manusia). Kalau kata Emha Ainun Nadjib “Gusti Allah Tidak Ndeso” ….. a good article, i highly recommend to read it.
Kalau kata Mas Fajar kpd Miss Serendipity *dulu* “Tujuan manusia itu diturunkan oleh Allah ke muka bumi ini adalah utk menjadi ‘rahmatan lil alamin’, not ‘rahmatan lil indonesie’, not ‘rahmatan lil muslimin’, not even ‘rahmatan lil ilahi’. But ‘rahmatan lil alamin’ (rahmat bagi seru sekalian alam)”.
Bukan hanya akhirat saja yang menjadi target hidup kita, tetapi juga dunia ini harus menjadi target hidup kita…. balance … yah, i think that’s the right word.
Keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara Habluminallah dan Habluminannas, antara stakeholder satu dan stakeholder lainnya.
Okay, kembali ke cerita American Cyanamid. Akhirnya pilihan mana yang diambil? The Management akhirnya decide utk me-maximize shareholder value dgn menerima tawaran AHP. Berakhirlah sudah riwayat American Cyanamid.
Sbg orang lama di American Cyanamid, Costello sbnrnya merasa sedih krn terpaksa harus mengambil decision itu. Ia merasa kehilangan organisasi yang sdh lama ia tempati. Saat ia berkeliling mengunjungi para pegawai2, dia merasa trenyuh melihat byk pegawai2nya yang menyampaikan concern ttg bgmn nasib mereka nantinya, bgmn mrk sangat kehilangan kalau organisasi itu sampai hilang, dll. Costello pun akhirnya mengundurkan diri dan menolak tawaran utk duduk di AHP. Dia merasa sdh tidak mampu lagi memperjuangkan kepentingan stakeholder yang lain meskipun dgn tetap menjabat.
….. having a main stakeholder in mind doesnt necessarily imply that we shall ignore the other ones …..


Entries (RSS)
siapa bilang alurnya nggak bagus??? menurut aku bagus kok… ada masalah di kehidupan sehari-hari yg dirangkum dalam pengalaman dari American Cyanamid… bagus kok bagus…. jangan digantiii udh bagus bgt…
I like Emha Ainun Nadjib’s clear consciousness in “Gusti Allah Tidak Ndeso”. Concise yet has deep meaning. Smart way to link it with “maximizing shareholder’s value” in business. Thanks for sharing it.