Archive for November, 2008

I’ve read numerous casestudies selama studi MBA gue skrg ini. Yet, today pertama kalinya gue ngerasa tersentuh dan terharu sama case study yang musti gue baca. If you think it has something to do with any humanity act or any philanthropic issue, u are wrong. It’s a pure business-oriented case study. It’s about a company called American Cyanamid (which doesnt exist anymore). Perusahaan ini udah lama berdiri sejak tahun 1907 dan bergerak dibidang chemical.

Thn 1994, perusahaan ini dipimpin oleh Albert Costello, yang sdh jd employee di perusahaan ini sejak thn 1957 so bisa dibilang dia memiliki ikatan batin yang kuat ama perusahaan ini. Di thn itu, Costello punya rencana utk swap asset bisnis sama perusahaan lain yang bernama SmithKline Beecham (SKB). Dengan asset swap ini, Costello berharap bisa menciptakan sinergi bisnis di American Cyanamid sehingga mendatangkan manfaat bagi byk pihak (employee, supplier, etc.), terutama utk para shareholder (pemegang saham). Afterall, bukankah tanggungjawab utama seorang CEO itu adl utk meningkatkan kekayaan para shareholders.

“the only social responsibility a law-abiding business has is to maximize profits for the shareholders”
- Milton Friedman

 

Byk pihak yang optimis jg dgn strategi Costello ini sehingga market bereaksi positif setelah mendengar berita ini dgn naiknya harga saham American Cyanamid dari 40an USD ke 60an USD (50% increase). Seneng dong pastinya para shareholder American Cyanamid.

Apparently, ada perusahaan lain, a bigger company, called AHP (American Home Product) yg diam2 tertarik utk menguasai American Cyanamid ini. Upon hearing the news regarding the swap between American Cyanamid and SKB, mereka lgsg menghubungi management American Cyanamid dan nawarin kalau mrk bersedia membeli saham American Cyanamid dgn harga 95 USD (50% above market price yg saat itu udah sekitar 60an USD).

Gak begitu dijelaskan scr detil knp AHP tertarik utk mengakuisisi mereka, yang pasti kalau AHP jadi membeli American Cyanamid maka hilanglah nama American Cyanamid dari permukaan bumi krn mereka akan merge dgn organisasi AHP. Kemungkinan terjadi layoff pegawai demi penghematan pun terbuka lebar. Belum lagi dampaknya kepada social community krn memang tampaknya ga ada business synergy yang bisa tercipta dr akuisisi ini. Faktor2 inilah yang membuat management American Cyanamid ragu utk menerima pinangan AHP.

Dilema bagi management American Cyanamid. Di satu sisi kalau mereka menerima pinangan AHP, berarti mereka bener2 me-maximize shareholder value krn AHP berani beli saham American Cyanamid dgn harga jauh diatas harga pasar meskipun mgkn mengorbankan stakeholder yang lain (employee, employee’s family, dll). Di sisi lain kalau mereka menolak tawaran AHP dan meneruskan rencana utk swap ama SKB, maka shareholder “cuma” menikmati value senilai 60an USD saja namun stakeholder yang lain agak lebih terjamin kepentingannya.

A dilemma for the management. Kepentingan mana yang musti mereka dahulukan dlm situasi ini. 

I bet this kind of thing happened most of the time in our life. Kita dihadapkan oleh pilihan dari 2 kepentingan. Musti milih:

  • Nganterin nyokap ke pasar atau nganterin pacar ke mall
  • Bantuin bokap benerin mobil atau bantuin temen benerin PC
  • Lembur ngerjain kerjaan kantor atau menghabiskan waktu dirumah bersama keluarga
  • dll
Apparently, we do also have our own stakeholders in our life…. family, friends, lover, coworkers, you name it. Seringkali kepentingan stakeholder2 ini saling bertentangan satu sama lain.

Kalau organisasi business kayak American Cyanamid punya shareholder (pemegang saham) sbg stakeholder utama mrk, maka stakeholder utama dlm kehidupan kita adalah … God.

Dia-lah yang akan menilai berhasil/tidaknya hidup kita didunia ini. Kepada Dia-lah seharusnya kita memberikan kontribusi maksimal kita dalam hidup ini. Sang Khalik. Dia-lah stakeholder utama kita.

But does that mean kita harus terus2an menempatkanNya as our top priority dlm kehidupan sehari2 kita?

Well, kalau kita ngambil analogi didalam organisasi bisnis maka ada sebuah mekanisme yang bernama stakeholder management. Intinya sih, ini adalah management ekspektasi utk para stakeholder, krn ga selamanya keputusan didalam organisasi itu harus menempatkan pemilik saham (shareholder) sebagai prioritas utamanya.

The same should go for us. Kita pun harus punya stakeholder management utk kehidupan pribadi kita. 

Some example to consider:

  • Adzan maghrib baru saja berkumandang, saat kamu mau siap2 solat tiba2 istri lo yang sedang hamil tua mengalami kontraksi. Mana yang musti lo dahulukan. Solat dulu. Atau nganterin istri ke rumah sakit dulu dgn konsekuensi solat maghribnya bakal telat.
  • Kamu udah bekerja cukup lama dan akhirnya punya tabungan yang cukup utk naik haji. Namun ditahun yang sama, anak lo masuk kuliah. Butuh biaya besar utk membiayai kuliahnya itu. Mana yang lo dahulukan. Naik haji. Atau kuliah anak.
  • … etc.
Ga selamanya kita harus menempatkan ibadah ritual kepada Tuhan sbg prioritas utama dlm hidup ini, hanya karena semata2 kita ingin mendapatkan pahalaNya (or shall I say “shareholder value” in this case).

Itulah knp didlm Islam, kita ga hanya diperintahkan ut menjaga Habluminallah (hub manusia dgn Allah), namun juga Habluminannas (hub manusia dgn manusia). Kalau kata Emha Ainun Nadjib “Gusti Allah Tidak Ndeso” ….. a good article, i highly recommend to read it.
Kalau kata Mas Fajar kpd Miss Serendipity *dulu* “Tujuan manusia itu diturunkan oleh Allah ke muka bumi ini adalah utk menjadi ‘rahmatan lil alamin’, not ‘rahmatan lil indonesie’, not ‘rahmatan lil muslimin’, not even ‘rahmatan lil ilahi’. But ‘rahmatan lil alamin’ (rahmat bagi seru sekalian alam)”.

Bukan hanya akhirat saja yang menjadi target hidup kita, tetapi juga dunia ini harus menjadi target hidup kita…. balance … yah, i think that’s the right word.

Keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara Habluminallah dan Habluminannas, antara stakeholder satu dan stakeholder lainnya.

Okay, kembali ke cerita American Cyanamid. Akhirnya pilihan mana yang diambil? The Management akhirnya decide utk me-maximize shareholder value dgn menerima tawaran AHP. Berakhirlah sudah riwayat American Cyanamid.

Sbg orang lama di American Cyanamid, Costello sbnrnya merasa sedih krn terpaksa harus mengambil decision itu. Ia merasa kehilangan organisasi yang sdh lama ia tempati. Saat ia berkeliling mengunjungi para pegawai2, dia merasa trenyuh melihat byk pegawai2nya yang menyampaikan concern ttg bgmn nasib mereka nantinya, bgmn mrk sangat kehilangan kalau organisasi itu sampai hilang, dll. Costello pun akhirnya mengundurkan diri dan menolak tawaran utk duduk di AHP. Dia merasa sdh tidak mampu lagi memperjuangkan kepentingan stakeholder yang lain meskipun dgn tetap menjabat.

….. having a main stakeholder in mind doesnt necessarily imply that we shall ignore the other ones …..

Comments 2 Comments »

Just so we all know, ternyata kebiasaan makan kita punya dampak scr makro kpd struktur lapangan kerja, lingkungan, pertahanan keamanan, dll. This is what they did in Japan.

 

Comments 2 Comments »

…. couldn’t you all have downgraded to first class or jet-pooled or something to get here?  ….

Begitulah kurang lebih kata2 yg keluar dari mulut Gary Ackerman, salah satu anggota “DPR”nya amrik dr Democratic Party, kepada tiga org CEO dr 3 perusahaan otomotif raksasa US (GM, Ford and Chrysler), saking gemesnya liat kelakuan mrk yang bener2 tidak tanggap dgn situasi krisis saat ini.

Kalau kita sebagai masyarakat Indo “gemes” melihat kelakuan KPU yang jalan2 keluar negeri utk “melihat” proses pemilu di negara Paman Sam sana, maka liatlah kelakuan CEO-CEO ini yang mengepalai korporat otomotif raksasa dari negara tersebut.

Semenjak terjadinya krisis ekonomi di US, industri otomotif di negara itu terkena dampak yang lumayan significant. Gue dulu sempet berpikiran kalau negara2 yg udah established macam amrik ini pasti sistem public transportationnya bagus. Apparently, I was wrong. Dari hasil ngobrol2 dgn temen2 kul gue disini yg berasal dr Amrik, ternyata sistem transportasi publik di amrik itu jauh dibawah standard singapore ataupun negara2 di eropa. Itulah kenapa pengguna kendaraan pribadi di sana terus meningkat setiap tahunnya. Dan itulah pula kenapa industri otomotif bisa begitu berkembang di amrik.

But now, keadaaan ekonomi amrik sedang terperosok. Masyarakat disana pada menurunkan pengeluaran rumah tangga mereka. Fasilitas kredit (pinjaman) pun kian susah didapatkan dr bank2 ataupun lembaga keuangan lainnya. Alhasil industri2 disana satu per satu mulai berguguran. Dan kini yang sedang hangat2nya dibicarakan adalah industri otomotif ini.

Kalau bicara mengenai sisi ekonomi dari industri otomotif, maka kita tidak bisa terlepas dr rangkaian value chain yang berhubungan dengannya, termasuk didalamnya adalah bisnis gas station, dealer2 mobil, bengkel2, toko2 aksesoris, dll.

Saking besarnya pengaruh industri otomotif ini thdp ekonomi US melalui rangkaian value chain tersebut, GM sampai membuat website yang memberi gambaran betapa negatif dan besar efeknya thdp ekonomi kalau sampai perusahaan otomotif US bener2 bankrut dan run-out-of-business.

Oleh karena itulah, CEO dari GM Ford dan Chrysler sepakat utk meminta bantuan pemerintah US utk membantu mrk keluar dari kesulitan bisnis yang sedang mrk hadapi.

Ironisnya, mrk datang ke Washington utk meminta bantuan itu kpd para wakil rakyat disana tp mrk terbang kesana dgn menggunakan jet pribadi mereka!

Kalau dianalogiin, jadinya seperti kita melihat pengemis keluar dr mobil mercy. 

Apa yg mrk lakukan ini really doesnt sound like they are in a financial trouble to me.

Lebih ironisnya lagi, dalam salah satu klausul yg mrk janjikan utk bisa mendapatkan bantuan ini adalah janji kalau mereka akan men-streamline operasional bisnis mrk, mereka akan berhemat2. But look at what they did. Totally, the opposite of what they say.

They didn’t walk the talk.

If I were an employee and saw my President or CEO acted like that, I wouldn’t give a damn shit to any words that come out of their mouth in the future. Dia bisa saja mengeluarkan instruksi kepada segenap jajaran di kantor utk berhemat thdp pengeluaran operasional, tp dgn kelakuan mrk spt itu I wouldn’t give a damn shit…. *tet tot, pengulangan kata damn shit*

Walking the talk memang bukanlah kewajiban seorang CEO semata. Mau dia pegawai kek, guru kek, penjaga kasir kek, manager kek, semua haruslah stood up to what they say. Tetapi scope dan skala dr dampaknya kepada lingkungan sekitar pastilah berbeda.

  • A teacher might influence the whole class by walking the talk
    (mana mempan murid2 disuruh jujur ngerjain ujiannya mrk kalau tnyt guru mrk sendiri suka curang cari2 tambahan pendapatan dgn minta iuran fiktif kpd anak2 itu), 
  • A manager might influence the whole departement by walking the talk
    (mana mempan anak buah disuruh rajin kerjanya kalau si manager sendiri selalu telat dtgnya ke kantor), 
  • A CEO might influence the whole organization by walking the talk, 
  • A Khalifah might influence the whole nation by walking the talk. 

Tetapi sbnrnya diantara itu semua, yang satu inilah mnrt gue yang paling penting dan paling fundamental  …..

  • A parent might influence the future by walking the talk

Itulah esensi dr pendidikan di rumah bagi seorang anak. Seorang anak bisa saja selalu dinasihati oleh org tuanya mengenai nilai2 kejujuran, tanggung jawab, welas asih, dll. Tapi kalau org tuanya sendiri gak menerapkan nilai2 tersebut, mana mempan hal2 itu utk diserap sama anak2 ini. Padahal justru nilai2 luhur itu lah yang akan menentukan karakter spt apa yang akan terbentuk pada diri si anak ini, suatu saat nanti.

I considered myself lucky enough to have a dad like my father. He used to be a director in one of the biggest bank in Indonesia. Ketika dia masih menjabat, dia sangat strict sama prinsip pribadinya kalau perjalanan dinas adalah perjalanan dinas, its not for family. Dia ga mau keluarga ikutan perjalanan dinas dia (kecuali dgn biaya sendiri). Unlike other of his colleagues yang mgkn senang memanfaatkan kesempatan ini utk turut membawa keluarga mrk serta dalam perjalanan dinas mrk dgn tanggungan ktr.

My father also always taught me to be full of forgiveness. Jangan pernah menyimpan dendam kalau ada org lain yang menyakiti kita. Jangan pernah punya niat buruk utk menyakiti org lain. And he really showed me that he stood up to those words, even to people that did bad things to him in the past.

My father might not know this, but by being consistent to what he said and to his principles, he’s actually giving me the best guidance a father could ever give to his son….. a guidance that is more powerful than a thousand words can ever taught me….

- action speaks louder than words -

Comments No Comments »

US weekly jobless claims hit 16-year high” …. gitu dhe kurang lebih headline dr berita malam ini saat gue browsing2 di internet pas br plg dr kelas. Ketika pertama kali baca buku makroekonomi buat kuliah Economic Analysis di awal2 studi MBA gue dan liat term jobless claim gue berpikiran “makhluk apaan lagi yah ni” (maklum there’s no such a thing di indo).

Di negara2 yang udah established kyk Amrik dan bbrp di Eropa, buat org2 yang jobless (pengangguran), pemerintah akan menyediakan bantuan kepada mereka setiap bulannya utk menyokong kebutuhan hidup mereka sehari2nya sampai mereka mendapatkan pekerjaan kembali. Istilahnya unemployment benefit. Kalau bingung, drmn pemerintah mrk dpt duitnya buat menyokong program beginian, jawabannya adalah tentu saja … from the taxpayer-lah (kecuali utk Saudi Arabia tampaknya). Makanya itu pajak di negara mereka tinggi2. Nah jobless claim diatas itu adalah indikator ekonomi yang menunjukkan tingkat klaim terhadap unemployment benefit ini in the prevailing week.

Theoretically, kalau jobless claims tinggi, maka itu bisa dijadikan indikasi bahwa kalau ekonomi akan mengalami downtrend atawa penurunan growth. Yah common sense sih, kalau jobless claims tinggi berarti tingkat pengangguran tinggi, kalau tingkat pengangguran tingkat berarti spending masyarakat scr nasional akan menurun, kalau spending masyarakat menurun berarti ekonomi scr makro ga berkembang. Jadi siap2 aja melihat resesi di Amrik kalau gt, yg pasti berdampak ke dunia internasional (ohh noooo!!).

Basically konsep dr unemployment benefit ini niatnya baik. Negara mengakui bahwasanya butuh sebuah mekanisme yang bisa menyalurkan kesejahteraan dr si kaya ke si miskin. Pemerataan/distribusi ekonomi-lah pada intinya.

I have to admit, gue sendiri sih termasuk pro sama kebijakan spt ini pada awalnya (krn gue memang sepaham ama ide pemerataan kesejahteraan) ….. until one day gue sampai di eropa and dengar dgn telinga sendiri gimana pandangan orang2 disana akan kebijakan ini.

Ternyata kebijakan utk memberikan unemployment benefit ini memiliki drawback dimana pemerintah justru seakan2 memberikan insentif kepada masyarakat utk bermalas2an (males kerja maksudnya). Ngapain kerja, lha wong tiap bulan dpt duit dr negara buat hidup. Lagian, krn disokong sama high tax di negara itu, terkadang penghasilan net dr bekerja bisa lebih kecil jumlahnya drpd unemployment benefit dr pemerintah ini. So there’s a lot of incentive to stay unemployed buat org2 di negara itu. Dan yang paling bikin sebel org2 dsana (org2 yg kerja nih maksudnya) adalah, mereka harus bayar tax yg tinggi demi bisa mendanai negara utk menyokong gaya hidup ” para pemalas” ini :(
 

Meskipun ga begitu related, tapi melihat hal ini gue jadi teringat sama problematika rumah singgah di Indo. Rumah singgah di Indo notabene memiliki niat utk “menarik” anak2 jalanan dari jalanan dan memberi mereka kesempatan utk bersekolah dan mengenyam pendidikan. Tapi kenyataannya anak2 ini lebih enjoy berada di jalanan, krn instead of disuruh susah payah belajar, mrk justru bisa mendapatkan duit dgn mengamen di jalanan. Mrk pikir apa untungnya coba disuruh ngitung2 luas segitiga di pr matematika yang musti mrk kerjain di rmh singgah, mendingan ngamen dijalanan dhe, bisa dpt duit buat jajan.

Mindset … yah itu lah masalahnya. Anak2 jalanan ini dan orang2 yang prefer to stay unemployed itu memiliki mindset yang sama. Mereka sama2 berpikir, yg penting kebutuhan saat ini sdh terpenuhi. Mereka ga mikir panjang ke depan, gimana nasib mereka nantinya in the future.
- Si anak jalanan ga mikir, gimana nasib mereka nantinya kedpn kalau mrk ga sekolah (krn mrk pikir, mrk bisa ngandalin hidup terus2an dr mengamen).
- Si pemalas yang ga mau cr kerja ga mikir, gimana nasib mereka nantinya kalau ga mulai cr2 kerja (krn mrk pikir, toh negara nanti bakal menyokong hidup dia koq).

If only we can find a way to shift this mindset away krn sayang bgt, program dgn niat sebaik unemployment benefit diatas justru “disalahartikan” sama orang2 dgn mindset yang salah model begini….

Comments No Comments »

Kyknya udah jadi rahasia umum ya kalau ada hujan lebat pasti ada2 aja dhe masalah (apalagi buat mrk yg tinggal di Jakarta). Jalanan jadi macet-lah, genangan air dimana2-lah, koneksi internet jadi lambat-lah, dll. Although gue sbnrnya kurang gt ngerti knp hujan lebat bisa bikin koneksi internet jadi kacau (maybe someone can help me). Tapi yg pasti, dulu di Jakarta kalau koneksi internet kabel gue ngadat gara2 hujan, yang pertama kali gue goyang2 pasti adalah modem kabelnya. Hahahaha. Padahal kalau dipikir2 scr logis, mau digoyang2 ampe seribu kali juga ga bakal nyelesaiin masalah.

Tp emg begitu kali yah nalurinya manusia. Kalau ada masalah, hal pertama yang mereka utak atik adalah interface-nya. Krn yang bisa ditangkap scr lgsg oleh indera kita yah adalah interface itu. Modem diatas itu adalah salah satu bentuk customer interface. Contoh interface yang lain adalah mouse kita. Coba kalau laptop kita tiba2 hang atau tiba2 jadi lambat prosesnya, yg pertama kali kita lakukan pasti adalah goyang2in si mouse (kadang malah dibanting2). Padahal kalau dipikir2 scr logis yang bermasalah tuh ada didalam software / proses, dan bukan pada si mouse yang malang itu. Hehehehe.

Mgkn krn itu jg kali yah, benda2 yg jadi interface dr sebuah sistem harus memenuhi sebuah syarat …. “durable”. Kalau ga, bisa lgsg pecah dhe nih mouse kalau dibanting2 sama pemiliknya … hehehehe.

Tapi kalau interface itu bentuknya bukan benda, tp manusia … apakah kita tetep bakal membanting2 interface itu? Kenyataanya … iya :-(
Kita harus akui kalau pekerjaan call center itu salah satu pekerjaan “terberat” yg pernah ada. Mereka yang notabene tidak tahu menahu banyak ttg problem yg terjadi sering kali harus menerima caci maki dari client yg komplain2. Kasian mereka …. kalau ga durable, bisa lgsg “pecah” mrk begitu di banting2 dgn complain dr customer2 itu :-(

Tapi mereka bukanlah satu2nya bentuk “human interface” yang ada didunia ini. Kalau dipikir2 sbnrnya hampir semua bentuk profesi pasti mengemban tanggung jawab “interfacing” meskipun porsinya beda2.

  • Front desk di bank memiliki porsi interfacing yang besar dalam hal memberikan pelayanan kpd nasabah (padahal sistem pelayanan itu scr holistik juga menyangkut proses2 dibelakang layar spt transfer data oleh IT, penghitungan balance oleh accountant, dll. yg sbnrnya diluar scope si front desk tp mrk yang harus berhadap2an dgn sang nasabah).
  • CEO sebuah firm juga memiliki porsi interfacing yang besar dalam hal mengumumkan strategi thn dpn dan juga performance perusahaan thn ini (padahal performance perusahaan itu byk dipengaruhi juga oleh performance org2 lapangan yang scr hierarki jauh bgt jaraknya dgn sang CEO, penentuan strategi juga bukan keputusan tunggal si CEO tetapi hasil rapat direksi scr rame2. tp yg harus maju utk berhadapan dgn para shareholder adalah sang CEO).
  • Staff procurement yang harus menjelaskan kepada departemen operasional knp barang pesenan mrk blm dtg2 jg ampe skrg (pdhl proses procurement bkn cm dia doang yang nangani, tp dia yg harus berhadapan dgn org operasional).
  • Sales rep yg harus dimaki2 sama client krn service yg dikerjain sm perusahaan dia kurang memuaskan (pdhl yg ngerjain service itu scr lgsg bukanlah si sales rep tp dia yang harus dimaki2 sama client).
  • Penjaga kasir di warung makan yang dimarah2in ama pembeli krn makanannya terlalu asin (pdhl yg masak jg bukan si kasir).
  • dll

Yah memang begitulah “desain” dr dunia ini. Intinya, manusia itu selalu mencari pelampiasan dr kekecewaan mrk. Dan hampir selalu, kekecewaan itu pasti mrk tumpahkan ke interface yg berkontak lgsg dgn mrk. Tp kita harus selalu inget, one day mgkn kita lah yg bakal mjd sang interface itu…..

Comments 3 Comments »