Last night gue ke Sushi Tei bareng Marc, Maiko and Dominick di Vivocity. It’s been a while since I had sushi. Tapi yang paling gue nantikan di Sushi Tei tentu saja adalah Salmon Mentai mereka yang konon rasanya bisa bikin orgasme *hiperbol*
Afterwards, we moved to the German Bier Bar di Vivocity juga. No worries, I only had ice lemon tea as usual :p
Disana si Dom ama Marc ngajarin gue tipe2 Bir yang beda2. Dari Lager sampai Hefe. Mereka jg cerita ttg sebuah tradisi dalam agama Kristen dimana mereka ada periode tertentu sebelum Paskah, namanya Lent, yang mirip2 sama Ramadhan dalam Islam karena mereka harus “puasa” menahan hawa nafsu, berperilaku lebih baik, dll selama 40 hari itu. Nah untuk melalui masa2 susah ini (ini kata2nya si Dominick lho), para rahib (monk) di Jerman membuat bir yang namanya Bock, utk di konsumsi selama masa “susah” itu. Merk komersialnya Paulaner Salvatore.
Meskipun kita sama2 punya masa “puasa”, Lent ama Ramadhan, tapi cara kita melalui periode itu kontras banget. Kalau gue puasa di bln Ramadhan di Jakarta dgn gaya ala Jerman gitu, bisa di-cap “immoral” sama org2 disekitar gue … hehehehehe. Tapi kalau gue melakukannya di Jerman, mgkn akan agak beda situasinya.
So, apa sih yang termasuk dalam perilaku ”moral” ?
Kalau kita melihat hal ini dalam skala individu tentu kita bisa bilang “ngapain sih cape2 ngomongin hal ini. Lets embrace our differences”. Kalau mnrt si A minum bir itu ga baik, yah ga usah minum. Tapi kalau mnrt si B minum bir itu oke2 ajah, yah monggo2 wae.
But thing starts to become a bit complicated kalau hal ini sdh masuk skala publik. (konteks pembahasan ini dibatasi cm utk isu yang masuk grey area lho yah kyk masalah minum bir ini krn masih ada yang pro dan juga ada yang kontra. Tapi utk hal2 kyk pencurian, pemerkosaan, dll itu jelas bakal masuk black area semua)
Kalau di Amrik mgkn contohnya adalah debat mengenai RUU perkawinan sesama jenis yang masih banyak pro dan kontra-nya. Orang yang berhaluan liberal akan condong utk mendukungnya krn mendukung kebebasan berekspresi dalam diri setiap individu, sementara orang2 yang berhaluan conservative akan condong utk menentangnya karena bertentangan di nilai2 yang mrk anut. Yah sama aja kyk di Indo, yang conservative mendukung RUU anti-pornografi sampai titik darah penghabisan, yang liberal menentangnya mati2an.
Menurut teori Moral Foundation Theory, ada 5 hal yang mempengaruhi jiudgement kita mengenai moral:
- Harm/care
- Fairness/reciprocity
- Ingroup/loyalty
- Authority/respect
- Purity/sanctity
Nah perbedaan porsi dan persepsi tiap2 individu akan kelima hal ini-lah yang pada akhirnya membentuk mindset kita yang jadi lebih prefer ke arah conservative atau liberal.
Mana yang lebih baik? Conservative or Liberal?
Hmmm … yah spt salah 1 argumen diatas .. mgkn emg lebih baik if we just say that it”ll be better if we just embrace our differences ;)
Just like Yin dan Yang, the two differences can create wonders if we embrace them. Kalau di mitology Hindu, ada Dewa Wisnu sang pemelihara dan ada Dewa Shiwa sang penghancur (pembaharu). Dua hal yang saling kontradiktif. Tapi karena kontradiksi inilah mereka bisa menciptakan harmoni dalam dunia ini. Bersama2 dgn Brahma sang pencipta mereka adalah 1 entiti yang sama yang bernama Trimurti.
Kalau diliat2 bukankah sifat2 dari Wisnu sang pemelihara itu mirip dgn golongan conservative sementara Shiwa sang pembaharu mirip dgn kaum liberal?
Then again, an issue still arise on how do we manage this contradiction.
Kalau ada yg tanya hal ini ke gue, gue akan bilang “good question” … terus kabur … hehehehe
Kebetulan kmrn di kelas LOB, ada tugas baca mengenai gimana Toyota justru memanfaatkan kontradiksi ini utk menuju sukses.
Yang gue suka dalam artikel ini bukanlah mengenai step2 yang Toyota lakukan utk me-manage hal ini (krn mnrt gue strategi mrk blm tentu bisa berhasil dalam organisasi lain). Tapi ending dari artikel inilah yang menarik bagi gue.
People often ask us, “Tell me one thing I should learn from Toyota.” That misses the point. Emulating Toyota isn’t about copying any one practice; it’s about creating a culture. That takes time. It requires resources. And it isn’t easy.
So jawaban utk bisa me-manage berbagai isu yg banyak pro dan kontra-nya kyk di Indo yah yg pasti fondasinya (kultur) harus dibangun terlebih dahulu. Apa itu fondasinya? pemahaman bahwa berbeda pendapat itu hal yg wajar dan patut dihormati dan dihargai. Because we are not machines …. we are humans.


Entries (RSS)