Sembari menyantap sahur pagi ini, gue browsing2 ke detikcom buat baca2 berita terkini seputar Indonesia. Ada 1 kolom mengenai sebuah sekolah di Surabaya yang menarik perhatian gue. Judulnya aja udah cukup utk menarik perhatian gue “Kantin Kejujuran untuk Pelajar“. Jadi ceritanya ada sebuah sekolah di Surabaya (kayaknya sih pre-school gt) yang mencoba utk melatih nilai kejujuran (honesty) kepada anak2 usia dini ini. Caranya adalah dgn membiarkan mrk melakukan transaksi jual beli di kantin tanpa pengawasan dari siapa pun. Jadi disediakan sebuah box gitu berisi duit. Kalau mereka mau beli sesuatu, tinggal masukin dhe duitnya ke box itu. Kalau butuh kembalian, ambil sendiri dr box itu sesuai dgn jumlah kembalian yang dibutuhkan.

Gue sendiri sangat menghargai bentuk pendidikan seperti ini. Menurut gue, ada added value yang mereka tawarkan dari proses edukasi ini. Walau bisa dibilang added value ini sifatnya intangible and ga terukur (gimana coba caranya ngukur honesty :-P). Gue jadi inget pernah ngebaca satu ulasan dari sebuah website dari Malay yang meng-argue bahwa GDP itu bukanlah ukuran yang tepat utk mengukur produktifitas sebuah negara.

Apa hubungannya ?

Well, kita selama ini kalau berbicara mengenai produktifitas sebuah negara, pasti ukuran yang kita pakai adalah GDP (Gross Domestic Product). Faktor2 yang menjadi variabel dalam kalkulasi GDP ini adalah faktor2 yang dianggap memberikan added value atau kontribusi terhadap tingkat kesejahteraan negara yang bersangkutan. Faktor2 itu antara lain adl:

  • C = (Private) Comsumption, termasuk didalamnya adalah personal expenditures of households such as food, rent, medical expenses and so on but does not include new housing (quoted from wiki)
  • I = Investment by business, contohnya construction of a new mine, purchase of software, or purchase of machinery and equipment for a factory. Tapi hal2 yang nggak bersifat riil atau nyata (ga memberikan value added) spt investasi di financial instrument, ga dimasukkan kedalam kategori ini. Melainkan dianggap sbg kebalikannya, yaitu savings.
  • G = Government Expenditures, termasuk didalamnya adalah salaries of public servants, purchase of weapons for the military, and any investment expenditure by a government
  • NX = Net Export; ini adalah selisih antara export dan import dr negara yang bersangkutan.

Kalau ngeliat faktor2 diatas, semuanya pasti berhubungan sama spending. Entah itu ditingkat government, business, ataupun household. Jadi konsepnya, semakin banyak kita melakukan spending, maka semakin sejahtera kehidupan masyarakat kita. Kenapa demikian. Karena the more spending that we do, berarti semakin banyak uang yang beredar di masyarakat. Semakin banyak uang yang beredar di masyarakat, maka semakin besar kesempatan masyarakat untuk bisa earn money dari hasil jerih payah mereka.

Coba kalau semua manusia di Indonesia pada pelit dan ga mau spend duit mereka, instead mereka tabungin semua ke savings. Gimana nasib para penjual nasi goreng di pinggir jalan itu nantinya? Udah cape2 belanja beras, ayam, garam, dll. Terus jalan kaki berkilo2 meter jauhnya dari rmh ke tempat dagangan eh terus ga ada yang mau beli masakan mereka :-( 

Okay so, kenapa GDP bukan ukuran yang tepat untuk mengukur kesejahteraan sebuah negara atau masyarakat ?

  1. Semakin tinggi GDP does not necessarily mean that masyarakatnya tambah sejahtera; krn GDP itu cuma mengukur kesejahteraan scr total tp nggak mengukur distribusi kesejahteraan di masyarakat itu sendiri. Bisa aja terjadi masyarakat yang kaya jadi semakin kaya dan yang miskin jadi semakin miskin, tp GDP negara itu tampak improve as a whole.
  2. GDP secara garis besar cm mengkalkulasi spending yang dikeluarkan oleh masyarakat, tp nggak melihat spending ini ditujukan utk apa. Alhasil, sbnrnya ada bbrp spending yang nggak memberikan added value (ga memberikan kontribusi apa2 utk meningkatkan kesejahteraan masyarakat). Contohnya, spending untuk membiayai cost of living penghuni penjara/LP, spending untuk membiayai biaya pengobatan kalau terjadi wabah penyakit, spending krn bencana alam, etc. Kalau dilihat sebenarnya spending2 ini ga memberikan nilai tambah ke tingkat welfare masyarakat. Secara riil malah bisa dibilang tingkat kesejahteraan masyarakat justru menurun krn bencana2 ini. Tapi indikator GDP menyatakan sebaliknya (tingkat welfare naik) krn banyaknya spending yang keluar akibat hal2 ini.
  3. Negative externalities yang timbul akibat spending yang dilakukan, ga masuk perhitungan GDP. Buat yang nggak tau apa itu externalities, pada intinya ini adalah efek samping dari aktifitas yang kita lakukan. Jadi kalau misalnya kita spend money untuk membeli bahan bakar buat kendaraan bermotor kita maka externalitiesnya adalah meningkatnya tingkat polusi di lingkungan kita, bahkan juga bisa meningkatnya tingkat stress di masyarakat kita akibat semakin tingginya tingkat kemacetan lalu lintas yang terjadi. Nah efek samping yang melukai tingkat kesejahteraan masyarakat ini ga masuk perhitungan GDP. Ini baru contoh kecil aja lho, coba bayangin kegiatan2 besar seperti penebangan liar kayu2 hutan, explorasi hasl tambang yang berlebihan, dll; negative externalities yang ditimbulkan pasti lebih besar lagi
  4. Kegiatan2 yang menambah value tapi bersifat suka rela juga ga masuk kedalam hitungan GDP. Contohnya gotong royong. Padahal kegiatan ini jelas2 meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat.
  5. Nah buat point yang ini mgkn adalah kebalikannya point no.3 dan juga berhubungan sama cerita Kantin Kejujuran diatas. Positive externalities yang timbul akibat sebuah aktifitas ga masuk hitungan dalam GDP. Sebagai contoh, coba kita bandingkan antara Kantin Kejujuran sama kantin biasa. Jumlah spending yang dikeluarkan oleh si anak mgkn sama2 adalah 5000 rupiah untuk beli teh botol di kedua kantin itu, tp bedanya di Kantin Kejujuran mereka juga belajar ttg nilai honesty. Externalities spt ini nih yang nggak di-acknowledge sama instrument GDP tp pada kenyataannya memberikan kontribusi terhadap welfare masyarakat. Contoh lain adalah nilai2 keagamaan, nilai2 kemanusiaan, dll.

Intinya, GDP hanya menilai pembangunan dari sudut materialistik yang sempit. Hal yg mendorong manusia utk berlomba2 jadi homo economicus. Padahal it takes more than just economic factor to achieve welfare.

Comments are closed.