Archive for September, 2008

Akhirnya kmrn gue interview jg ke US embassy disini. Rencananya mau bikin visa buat rencana exchange study gue ke UNC. Ga bgitu ribet sih prosesnya. Cukup bawa aja dokumen2 yang dibutuhin. Terus udah dhe interview.

Bbrp minggu lalu, temen gue dr Jerman, si Ben, udah interview. Dan 3 hari berikutnya dia udah lgsg dpt visanya. Jadi gue datang dgn membawa optimism yg sama dong. Dgn harapan pas hari jum’at bsk udah kelar visa gue, krn hari minggu bsk gue mau blk ke jkt. Mau lebaran di kampung halaman Jakarta tercinta ;)

Anyway, pas nungguin nomer gue buat dipanggil, gue liat ada anak indo jg yang lagi mau interview buat kul ke amrik. Entah gimana, gue liat2 pas terakhir2 si interviewernya balikin paspor dia sambil bilang “sorry,u r not qualified for a US visa”. Bleh, muka si anak itu lgsg memble. Kasian bener dia. Padahal udah rapi2 gt dtgnya pake dasi segala. Lah gue pake jeans ama sneakers :-P

Read the rest of this entry »

Comments No Comments »

Sembari menyantap sahur pagi ini, gue browsing2 ke detikcom buat baca2 berita terkini seputar Indonesia. Ada 1 kolom mengenai sebuah sekolah di Surabaya yang menarik perhatian gue. Judulnya aja udah cukup utk menarik perhatian gue “Kantin Kejujuran untuk Pelajar“. Jadi ceritanya ada sebuah sekolah di Surabaya (kayaknya sih pre-school gt) yang mencoba utk melatih nilai kejujuran (honesty) kepada anak2 usia dini ini. Caranya adalah dgn membiarkan mrk melakukan transaksi jual beli di kantin tanpa pengawasan dari siapa pun. Jadi disediakan sebuah box gitu berisi duit. Kalau mereka mau beli sesuatu, tinggal masukin dhe duitnya ke box itu. Kalau butuh kembalian, ambil sendiri dr box itu sesuai dgn jumlah kembalian yang dibutuhkan.

Gue sendiri sangat menghargai bentuk pendidikan seperti ini. Menurut gue, ada added value yang mereka tawarkan dari proses edukasi ini. Walau bisa dibilang added value ini sifatnya intangible and ga terukur (gimana coba caranya ngukur honesty :-P). Gue jadi inget pernah ngebaca satu ulasan dari sebuah website dari Malay yang meng-argue bahwa GDP itu bukanlah ukuran yang tepat utk mengukur produktifitas sebuah negara.

Apa hubungannya ?

Well, kita selama ini kalau berbicara mengenai produktifitas sebuah negara, pasti ukuran yang kita pakai adalah GDP (Gross Domestic Product). Faktor2 yang menjadi variabel dalam kalkulasi GDP ini adalah faktor2 yang dianggap memberikan added value atau kontribusi terhadap tingkat kesejahteraan negara yang bersangkutan. Faktor2 itu antara lain adl:

  • C = (Private) Comsumption, termasuk didalamnya adalah personal expenditures of households such as food, rent, medical expenses and so on but does not include new housing (quoted from wiki)
  • I = Investment by business, contohnya construction of a new mine, purchase of software, or purchase of machinery and equipment for a factory. Tapi hal2 yang nggak bersifat riil atau nyata (ga memberikan value added) spt investasi di financial instrument, ga dimasukkan kedalam kategori ini. Melainkan dianggap sbg kebalikannya, yaitu savings.
  • G = Government Expenditures, termasuk didalamnya adalah salaries of public servants, purchase of weapons for the military, and any investment expenditure by a government
  • NX = Net Export; ini adalah selisih antara export dan import dr negara yang bersangkutan.

Kalau ngeliat faktor2 diatas, semuanya pasti berhubungan sama spending. Entah itu ditingkat government, business, ataupun household. Jadi konsepnya, semakin banyak kita melakukan spending, maka semakin sejahtera kehidupan masyarakat kita. Kenapa demikian. Karena the more spending that we do, berarti semakin banyak uang yang beredar di masyarakat. Semakin banyak uang yang beredar di masyarakat, maka semakin besar kesempatan masyarakat untuk bisa earn money dari hasil jerih payah mereka.

Coba kalau semua manusia di Indonesia pada pelit dan ga mau spend duit mereka, instead mereka tabungin semua ke savings. Gimana nasib para penjual nasi goreng di pinggir jalan itu nantinya? Udah cape2 belanja beras, ayam, garam, dll. Terus jalan kaki berkilo2 meter jauhnya dari rmh ke tempat dagangan eh terus ga ada yang mau beli masakan mereka :-( 

Okay so, kenapa GDP bukan ukuran yang tepat untuk mengukur kesejahteraan sebuah negara atau masyarakat ?

  1. Semakin tinggi GDP does not necessarily mean that masyarakatnya tambah sejahtera; krn GDP itu cuma mengukur kesejahteraan scr total tp nggak mengukur distribusi kesejahteraan di masyarakat itu sendiri. Bisa aja terjadi masyarakat yang kaya jadi semakin kaya dan yang miskin jadi semakin miskin, tp GDP negara itu tampak improve as a whole.
  2. GDP secara garis besar cm mengkalkulasi spending yang dikeluarkan oleh masyarakat, tp nggak melihat spending ini ditujukan utk apa. Alhasil, sbnrnya ada bbrp spending yang nggak memberikan added value (ga memberikan kontribusi apa2 utk meningkatkan kesejahteraan masyarakat). Contohnya, spending untuk membiayai cost of living penghuni penjara/LP, spending untuk membiayai biaya pengobatan kalau terjadi wabah penyakit, spending krn bencana alam, etc. Kalau dilihat sebenarnya spending2 ini ga memberikan nilai tambah ke tingkat welfare masyarakat. Secara riil malah bisa dibilang tingkat kesejahteraan masyarakat justru menurun krn bencana2 ini. Tapi indikator GDP menyatakan sebaliknya (tingkat welfare naik) krn banyaknya spending yang keluar akibat hal2 ini.
  3. Negative externalities yang timbul akibat spending yang dilakukan, ga masuk perhitungan GDP. Buat yang nggak tau apa itu externalities, pada intinya ini adalah efek samping dari aktifitas yang kita lakukan. Jadi kalau misalnya kita spend money untuk membeli bahan bakar buat kendaraan bermotor kita maka externalitiesnya adalah meningkatnya tingkat polusi di lingkungan kita, bahkan juga bisa meningkatnya tingkat stress di masyarakat kita akibat semakin tingginya tingkat kemacetan lalu lintas yang terjadi. Nah efek samping yang melukai tingkat kesejahteraan masyarakat ini ga masuk perhitungan GDP. Ini baru contoh kecil aja lho, coba bayangin kegiatan2 besar seperti penebangan liar kayu2 hutan, explorasi hasl tambang yang berlebihan, dll; negative externalities yang ditimbulkan pasti lebih besar lagi
  4. Kegiatan2 yang menambah value tapi bersifat suka rela juga ga masuk kedalam hitungan GDP. Contohnya gotong royong. Padahal kegiatan ini jelas2 meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat.
  5. Nah buat point yang ini mgkn adalah kebalikannya point no.3 dan juga berhubungan sama cerita Kantin Kejujuran diatas. Positive externalities yang timbul akibat sebuah aktifitas ga masuk hitungan dalam GDP. Sebagai contoh, coba kita bandingkan antara Kantin Kejujuran sama kantin biasa. Jumlah spending yang dikeluarkan oleh si anak mgkn sama2 adalah 5000 rupiah untuk beli teh botol di kedua kantin itu, tp bedanya di Kantin Kejujuran mereka juga belajar ttg nilai honesty. Externalities spt ini nih yang nggak di-acknowledge sama instrument GDP tp pada kenyataannya memberikan kontribusi terhadap welfare masyarakat. Contoh lain adalah nilai2 keagamaan, nilai2 kemanusiaan, dll.

Intinya, GDP hanya menilai pembangunan dari sudut materialistik yang sempit. Hal yg mendorong manusia utk berlomba2 jadi homo economicus. Padahal it takes more than just economic factor to achieve welfare.

Comments No Comments »

Dunia persilatan finansial global (if I may add “riba-based global economy” :P) sedang dilanda gunjang ganjing saat ini. Seperti yang sdh diketahui banyak orang, di tahun 2007, negara dengan basis ekonomi dan finansial terkuat didunia (USA) dilanda krisis finansial yang dikenal sebagai subprime mortgage crisis.

Sesuai dgn namanya, krisis ini tentu ada hubungannya sama mortgage (di indonesia namanya “hipotek“). Kalau ngomongin mortgage / hipotek, berarti ga bisa pisah dari yang namanya asset tak bergerak, lumrahnya sih rumah n tanah. Sebelum masuk tahun 2007, industry housing di Amerika lagi hot2nya nih ceritanya. Harga real estate terus2an naik dan ga menunjukkan indikasi kalau akan turun (yah kyk di Indo harga tanah khan ga pernah turun, naik terus setiap tahunnya, mirip spt itulah kasusnya).

Nah mnrt sistem ekonomi riba *halah lagi2 riba*, property tak bergerak ini bisa dijadikan jaminan utk lebih dari 1 skenario kredit / pinjaman. Istilahnya second mortgage-lah. Perancang skema kredit ini tentu saja adalah para ekonomis kapital yang notabene adalah para investment bankir2 Yahudi di Amrik. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk menarik minat masyarakat utk “membeli” produk riba ini. Dan itulah yang terjadi. Orang2 pada berlomba2 utk membeli rumah / property dgn menggunakan skema kredit tertentu (this already a riba scheme). Lalu dgn spekulasi kalau harga property akan terus menanjak (again this is another riba atau lebih tepatnya judi!), orang2 ini mengambil second mortgage (like i said before, this is another riba product) dgn jaminannya adalah the future expected added value of their property.

Lalu apa yang terjadi?

Read the rest of this entry »

Comments 4 Comments »

Akhir2 ini kalau jalan2 keliling Singapore (apalagi kalau jalan ke pusat2 jajanan atau pun perbelanjaan) pasti byk nemuin stand2 mirip bazaar yg jualan mooncake. Well, it is the time for mooncake festival nih skrg disini.

Pasti pada tau dong mooncake itu apa. Itu kue khas cina yang bentuknya bunder. Isi dan rasanya bisa macam2. Yang paling unik sih (gue sendiri blm pernah nemu) katanya ada yang rasa vodka lho nih mooncake (kata temen gue Matt). Kira2 bisa bikin mabok ga ya kalau makan mooncake vodka ini. Hehehe.

Kalau kata temen gue Sheng, mooncake fest itu adalah saat dimana bulan bercahaya paling terang dalam 1 tahun. Jadi biasanya orang2 pada kumpul2 dimlm hari utk makan mooncake, minum teh, sambil menikmati pemandangan bulan yang terang itu.

Biasanya moon fest ini jatuh diantara bulan Agustus, September atau Oktober. Yah kalau dibandingin sama Chinese New Year sih perayaan Moon Fest ini memang ga ada apa2nya. It’s a low-key holiday-lah intinya.

Ada juga yang bilang:

This is also a time for lovers to tryst and pray for togetherness, symbolized by the roundness of the moon

Hehehehe. Ga ada salahnya kalau gue berdoa utk hal itu saat ini berarti :-P

Comments No Comments »

I missed Ramadhan. Gue baru sadar betapa gue kehilangan yang namanya Ramadhan mlm ini. Barusan gue habis dari orchard. Rencananya sih gue pengen tarawih di mesjid Al-Falah. Tadi gue sempetin buka dulu di asrama gue (graduate hall). Sekitar jam 0730an gue cabut dari kamar. Dasar emang asrama gue itu jauh banget dari pusat kota, gue baru nyampe Al-Falah sekitar jam 9. Udah telat dong pastinya. Tarawih udah dimulai. Samar2 dari luar mesjid gue dgr suara org solat berjamaah. Ada bbrp org yg ga tarawih n keluar masuk mesjid. Timbul perasaan yg nggak asing di benak gue. Kayaknya atmosfir ini gue kenal dhe. Sesuatu yang udah lammaa banget ga gue rasain. Sesuatu yang memicu rasa kangen gue. Sesuatu yang mengingatkan gue akan ramadhan di Jakarta.

Read the rest of this entry »

Comments 1 Comment »