Gue sbnrnya termasuk org yg suka membaca hal2 baru yang bisa menambah wawasan gue. Definisi “baru” disini ga musti merepresentasikan artikel yang baru dipublish atau buku yang baru diterbitin gt. Definisi “baru” disini adalah definisi yang relatif dibanding dgn wawasan pribadi gue. Jadi kalau ada hal2 yang blm pernah gue pelajari sblmnya tp pada dasarnya udah termasuk ilmu yg rada “kuno” kyk Kaizen, ABC, Portfolio Planning, dll, gue kategorikan kedalam kategori ilmu “baru” buat gue.

Sayang beribu sayang, meskipun gue menikmati membaca artikel2 ttg topik2 “baru” itu, gue orgnya termasuk rada pemalas dan ga disiplin. Dulu waktu gue masih kerja di CNOOC, sempet bikin komitmen pribadi utk atleast meluangkan waktu 1 jam utk membaca buku buru sblm mulai kerja. Di bbrp bulan pertama masih bisalah gue jalanin. Tapi lama2 ga ada kelanjutannya lagi. Beribu excuse gue lempar ke diri gue sendiri kyk “ga sempetlah”, “terlalu byk kerjaanlah”, “bacanya khan bisa nanti2 ajalah”, dll.

Semenjak gue mulai kuliah MBA sbnrnya ada perasaan rada seneng jg krn akhirnya gue skrg bukan hanya “punya waktu” utk mbaca tapi malah “dipaksa” buat membaca. Dipaksa utk membaca bertumpuk2 artikel dan referensi lain sblm masuk ke kelas. Hehehehe.

Gue sempet berpendapat, kuliah MBA tuh ga susah2 amat koq ilmunya. Beda sama Engineering kyk jaman2 dulu waktu gue masih muda yg susahnya naudzubillah :p
Tapi yang bikin kuliah MBA itu berharga adalah experiential learningnya dimana kita dikasih banyak readings yang memaksa kita utk self-descipline membaca bahan2 yang dikasih ke kita, dikasih banyak group work yang memaksa kita utk berkolaborasi dan kerjasama ama orang lain, diadu komentar didalam kelas yang memaksa kita utk bisa defend pendapat kita, diberi tekanan deadline dgn setumpuk “tugas2″ diatas yg memaksa kita utk bisa menerapkan time-management yang baik utk pribadi kita sendiri, dll.

Bukan berarti ilmu2nya MBA tuh gampang2 semua lho yah. Ada ilmu accounting yang paling bikin males krn ampe skrg gue masih bingung pos mana yang masuk Debit dan pos mana yang masuk Credit :p

Kembali ke masalah membaca. Minggu kmrn gue ada reading assignment yang berjudul “Discovering Your Authentic Leadership“. It’s a Harvard Business Article yang mencoba utk meng-counter teori2 mainstream mengenai topik leadership.

Argumen si penulis dalam artikel ini, teori2 ttg leadership (mnrt opini gue sih sbnrnya ini juga valid utk topik2 atau teori2 lainnya jg sih) yang beredar skrg ini cenderung utk “memaksa” pembacanya mengikuti framework yang ditawarkan sama teori tersebut. Kenyataannya framework2 tersebut adalah bentuk penyerdehanaan (simplifikasi) dan cenderung men-generalisir kasus yang satu dgn kasus yang lain. Blm tentu metode yang sama bisa totally successful kalau diaplikasikan dalam 2 kasus yang keliatannya kondisinya mirip. Bisa jadi yang 1 sukses tp yang satunya lagi gagal total. Mnrt artikel ini:

“Anyone can learn to be an authentic leader. The journey begins with leaders understanding their life stories. Authentic leaders frame their stories in ways that allow them to see themselves not as passive observers but as individuals who learn from their experiences. These leaders make time to examine their experiences and to reflect on them, and in doing so they grow as individuals and as leaders.”

Gue sangat tertarik sama konsep ini. Banyak buku2 ttg leadership yang dicetak akhir2 ini yang berisi ttg konsep leadership dilihat dari sudut pandang Jack Welch, Jeff Immelt, Steve Jobs, Ben Bernankie dan org2 sukses lainnya.

Tapi kalau mau dipikir2, knp buku2 ttg leadership ini terus aja terbit padahal udah byk org2 sblmnya yang bikin. Jawabannya: krn setiap buku menawarkan “teori”, “sudut pandang”, atau “framework” yang berbeda.

Knp bisa beda? bukannya temanya sama2 ttg leadership?
Jawabannya: krn “kisah hidupnya” Steve Jobs beda ama Jeff Immelt. “perjalanan hidupnya” Bill Gates beda ama Ben Bernankie. “pengalamannya” Toyota beda ama Honda. “tantangan masa lalunya” Motorola beda ama Nokia.

Itulah kenapa kita juga harus mau “membaca” dari perjalanan hidup kita masing2. “belajar” dari pengalaman hidup kita yang udah lalu. bukan cuma membaca dari buku atau artikel yang notabene adalah pengalaman hidup org lain.

3I yang mnrt gue penting dalam hidup kita.
- Ikhtiar (berusaha semaksimal mgkn)
- Istiqomah (berserah diri kpd Allah)
Tapi ada 1 lagi I yang kita (lbh cocoknya sih “gue”) suka lupa:
- I’TIKAF

i’tikaf nginep di mesjid?
hohohohoho ….. no no no no no …. bukan itu !!

Bokap gue pernah blg ke gue, i’tikaf itu esensinya bukan di “nginep” di mesjidnya.

i’tikaf itu adalah berdiam diri. merenung. introspeksi diri. mengingat kembali apa aja yang sdh kita lalui dalam perjalanan hidup kita. mengambil hikmah apa saja yang bisa kita pelajari. mensyukuri nikmat2 apa saja yang sdh Allah berikan kpd kita. mohon ampun atas dosa2 apa saja yang sudah kita perbuat. menganalisa hal2 apa saja yang bisa kita implementasikan ulang dimasa mendatang. mempertimbangkan hal2 apa saja yang bisa kita hindari dimasa mendatang. dan memikirkan hal2 apa saja yang bisa kita improve dimasa mendatang.

itulah i’tikaf. “Membaca” ulang perjalanan hidup kita. IQRA. yah mgkn itulah sbnrnya arti IQRA yang disabdakan oleh Jibril kala pertama kali mewartakan wahyu Allah kepada Rasul.

IQRA. bacalah. bacalah perjalanan hidup kalian. pelajarilah perjalanan hidup kalian …..

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>