Setelah 1 trimester yg lalu ga pernah ketemu, akhirnya gue ama Kenji sekelas lagi trimester ini di kelas Leadership and Organizational Behaviour.

Kmrn sabtu setelah selesai kelas, kita ke canteen two buat nyari makan malem. Berhubung topiknya adalah makanan, gue jadi keinget sama daging tersohor asal jepang, the Kobe Beef.

Dulu waktu gue masih kerja di CNOOC, sempet diajakin ama temen gue buat makan daging Kobe ini di hotel four season. Mereka masak daging ini dalam bentuk burger dan harganya > IDR 1juta (?????).

Jelas gue tolak mentak2lah tawaran itu :p

Anyway, gue terus tanya ke Kenji apa yang bikin Kobe Beef ini sebegitu tersohornya. Temen gue dr Inggris, Matt Tench, pernah cerita kalau dulu dia pernah ke Jepang dan mampir ke Kobe demi makan daging ini doang dgn harapan harganya murah (ternyata ktnya disana harganya mahal2 juga … meskipun ga semahal di luar Jepang).

Kalau di Kobe-nya sendiri aja udah mahal, gue yakin pasti istimewa bgt nih dagingnya. And kata Kenji …. it is indeed a remarkable beef.

Deskripsinya Kenji tuh kira2 begini buat menggambarkan kenikmatan daging itu …

“it is soo juicy. very very tender. when you put it into your mouth, it will melt inside your mouth. unlike those american beef which are hard. this kobe beef is very very soft and tender”

Ngiler seketika lidah gue.

Terus knp daging Kobe ini bisa sebegitu nikmatnya?

Kata Kenji sih karena proses peternakannya. Gue udah coba cari2 prosesnya di internet tp ga nemu2. Tapi mnrt cerita dia sih, sejak di peternakan sapi2 itu dikasih makanan organik non-kimia. Environment didalam peternakan itu dibikin si nyaman mgkn (utk sapi-sapi itu) krn katanya stress yg dialami oleh sapi itu bisa mempengaruhi kualitas daging mereka, jadinya dibikin environment-nya sebisa mgkn stress-free utk si sapi. Proses pejagalan dan pemotongan dagingnya pun pakai pisau dan teknik pemotongan khusus karena proses pemotongan ini bisa mempengaruhi sel2 didaging tersebut. Kalau sel2nya rusak, maka kualitasnya bisa berpengaruh (lagi2 itu kata si Kenji).

Wah ribet banget …. itu komentar gue setelah dgr cerita dia.

Tapi terus Kenji nerusin kalau skrg ini aktifitas peternakan di Jepang udah byk di support sama teknologi canggih.

Dia mengilustrasikan, setiap sapi itu dipasangin anting di kupingnya yang berisi barcode. Barcode ini menampung informasi mengenai kapan sapi ini dikasih makan, apa komposisi makanannya, siapa yang bertugas memberi makan, kondisi kesehatannya gimana, aktifitasnya apa aja, dll dll. Dengan demikian proses manual dalam peternakan sapi itu jadi seminim mgkn.

Dia lanjutin, kalau “teknologisasi” ini di Jepang bukan cm di bidang peternakan, tapi merambah juga ke pertanian, perikanan, dll. Alasan utamanya adalah karena masalah populasi di Jepang. Nowadays, pertumbuhan populasi di Jepang melambat (bahkan cenderung berkurang) krn byk pasangan2 di Jepang yg memutuskan utk ga punya anak. Alhasil terjadilah kekurangan supply tenaga kerja. Untuk menutupi hal ini, Jepang “terpaksa” mengembangkan teknologi mereka utk mengganti kekurangan “tenaga manusia” yg mrk butuhkan itu.

“Amazing” i said…

Gue terus keinget sama buku makroekonomi yg sempet gue baca bbrp hari sblmnya. Tentang teorinya Solow mengenai economic growth. Yah simpelnya sih output (Y) itu adalah fungsi dari Capital (K) and Labor (N) dikali sama faktor A yang merepresentasikan produktifitas, teknologi, etc.

Y = A.f(K,N)
Y = national output = GDP

Utk kasusnya Jepang, faktor N mereka itu bergerak menurun. Makanya itu mereka genjot faktor A mereka utk bisa memaintain GDP mereka.

Gue jadi kebayang Indonesia. Kita selama ini selalu keteteran di faktor A kita. Mengapa? Yah jawabannya sih krn bangsa kita ga bgitu concern utk invest di area ini. Suatu hal yg ga bisa gue salahkan juga. Ngeliat kondisi bangsa saat ini, utk memenuhi kebutuhan perut aja masih ada yg kesusahan. Boro2 utk investasi di teknologi. Padahal kalau productifitas kita tinggi krn ditunjang sm teknologi, negara kita mgkn ga akan mengalami deficit budget krn GDP kita tinggi <– mgkn akan ada bbrp org yang ga sepakat sama hal ini … hehehe.

Tapi yah kembali lagi ke masalah prioritas. Apakah kita mau memenuhi kebutuhan short-term kita dulu (sandang, pangan, papan, lap. pekerjaan, dll) atau kita mau “ngelompat” dan lgsg invest ke harapan jangka panjang kita melalui teknologi, pendidikan, dll.

It’s all about priority….

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>