Kala mataku membasah di pojokan Starbuck
Posted by: fajjar in Books, Reflection, WeblogsBbrp mgg ini tiap sabtu siang gue selalu mengalokasikan waktu gw buat pergi makan ama sinta ke plangi. Tapi sbnrnya bukan waktu makan siang-nya itu yang gue tunggu2 (sori yah sin :p).
Sembari nunggu dia istirahat CHRP, gue selalu nongkrong di starbuck sambil minum frappucino hazelnut dan membaca novel gw. Inilah waktu favorit gue krn gue bisa tenang sendirian, baca novel, sembari relaxing.
Dan seperti halnya minggu2 sblmnya, hari ini gue ke starbuck lagi. Pas sampai sana, sempet kecewa jg karena sofa favorit gue di lt dua-nya didudukin ama org lain. Tapi pas gw kelar mesen minuman gw itu, ternyata org2 itu pada cabut. Jadi gue bisa duduk di tempat biasanya gue baca novel itu dhe.
Novel "Ketika Cinta Bertasbih" di tangan gw blm abis jg tuh gue baca. Tempelan dari jeans zara man yang gue jadiin pembatas buku itu nunjukkin kalo masih ada sekitar 1/3 bagian lagi dr novel itu yang blm kelar gue baca.
Gue buka novel itu pas di penanda itu, dan sampailah gue di chapter yang berjudul "Surat Dari Indonesia". Bab ini menceritakan bagian saat Azzam, mahasiswa Al-Azhar Cairo yang mjd tokoh sentral dari cerita ini, menerima surat dari adik2nya di Indonesia. Di bab2 sblmnya diceritakan bgmn Azzam banting tulang mencari uang di Mesir dgn jualan bakso dan tempe utk membantu menghidupi keluarganya di Indonesia sejak ayahnya meninggal dan ia menomorduakan kuliahnya krn kesibukannya itu.
Bbrp menit aku membaca bab itu, aku sadar krn mataku mulai agak membasah. Gue terharu sama isi surat dari adiknya itu. Surat itu diawali dgn kisah sembilan tahun yang lalu saat Azzam meninggalkan keluarganya utk kuliah di Mesir. Kemudian saat surat Azzam dr Mesir sampai di Indonesia dan mengabarkan bahwa dia mjd satu2nya mahasiswa Indonesia yang lulus dr tingkat pertama dgn peringkat jayyid jidda (mkgn kalo bhs sini : ‘cumlaude’ kali yah). Betapa bangganya ayahnya akan prestasinya itu. Tapi kemudian bln berikutnya sang ayah meninggal krn kecelakaan. Dan dikantongnya ditemukan surat itu. Surat yang selalu ia bawa ke tempat kerja krn rasa bangganya thdp Azzam.
Semenjak saat itu Azzam "banting setir". Dia yang dulunya begitu idealis dalam hal pencapaian akademis, kini harus berjuang keras utk bs menghidupi keluarga di Indonesia.
9 tahun telah berlalu. Gelar S1 pun hingga saat ini blm berhasil Azzam raih. Tapi kini adik2nya sudah bisa mandiri. Adiknya mengabarkan bahwa dirinya telah lulus ujian profesi psikolog dan telah mengisi rubrik psikologi remaja disalah satu radio di Solo. Adiknya yang nomor tiga sudah lulus PGSD dan sdh mendapatkan pekerjaan tetap sbg guru di sebuah madrasah. Dan adiknya yang bungsu sudah di pesantren dan sudah hapal bbrp juz dr Al-Quran.
Adik2nya berharap agar Azzam kini konsentrasi saja dgn kuliahnya krn mereka sudah bisa menghidupi kebutuhan hidup mereka dan ibunya. Semua berkat pengorbanan Azzam.
Dari 1 bab ini, gue jadi belajar bahwa ternyata kesuksesan itu bukan hanya diukur oleh pencapaian karier ataupun akademis. Ternyata ketegaran dalam menghadapi cobaan hidup dan pengorbanan dalam rangka melawannya pun adalah sebuah ukuran kesuksesan dlm hidup manusia. Hanya saja faktor2 ini adalah "invicible achievement". Yang tau hanyalah orang itu dan Tuhan saja. Jadi jgn berharap bisa mendapatkan acknowledgement dr byk org thdp pencapaian itu. Tapi bagi mereka yang bener2 mengerti nilai dr sebuah pengorbanan tentu tidak akan begitu ambil pusing akan hal itu.
I admire those kind of people.


Entries (RSS)