Kalau baca pemberitaan akhir2 ini, I cant help but notice, koq kayaknya “blind” social support (or punishment) terasa kental sekali yah terhadap orang2 yang belum tentu “benar” (or “salah“) dalam tindakan atau keputusannya. For example, saat kasus Bibit dan Chandra mencuat. Dimata masyarakat kasus ini seakan2 adalah Robin Hood vs Pangeran John. Pandawa vs Korawa. Harapan masyarakat vs penguasa yg korup. Dan akhirnya terbentuk opini publik kalau telah terjadi suatu tindakan kriminalisasi terhadap mereka sebagai petinggi KPK, organisasi pemberantas korupsi di Indonesia, dan opini publik ini semakin menjadi2 saat Bibit - Chandra pada akhirnya ditahan. Masyarakat mengira penangkapan itu mencederai penegakan hukum. Tapi apakah mereka tahu, bahwa hal ini memang sudah sesuai dengan peraturan dalam ps 21 KUHAP. Apakah mereka tahu bahwa memang begitulah metode polisi dalam menjalankan tugasnya. Metode inilah yang diterapkan pada orang2 lain yang juga diperiksa oleh kepolisian dengan alasan subjektif dan objektif yang mirip. Jikalau saja yang ditahan bukan Chandra dan Bibit, tentu negeri kita tidak akan geger seperti ini. Akhirnya, terjadilan “pengistimewaan” terhadap sosok Bibit dan Chandra, kasus mereka di SP3-dan-SKP2-kan, akibat tekanan yang sedemikian kuatnya dari pihak publik, karena dirasakan manfaatnya akan lebih besar drpd mudharatnya sekiranya kasus ini dihentikan. Sungguh perlakuan yang istimewa bagi mereka berdua yang tidak dapat dirasakan oleh orang lain yang mungkin mengalami “kesewenangan aparat hukum” yang serupa. Padahal apakah kita yakin bahwa mereka berdua memang bebas dari kesalahan hukum? ataukah masyarakat hanya menjadi mainan para strategis yang ulung yang mampu memanfaatkan ke”lugu”an masyarakat yang gampang di-setir pendirian dan pendapatnya.
Kasus Prita. Saat wanita itu dituntut oleh RS Omni atas tindakan pencemaran nama baik, masyarakat langsung bereaksi. Di mata mereka kasus ini seakan2 adalah David vs Goliath. Rakyat kecil vs orang kaya. Orang lemah vs penguasa. Apakah benar demikian? Sementara itu, di sisi lain apakah kita yakin bahwa Jaksa Penuntut Prita itu adalah orang jahat, orang bodoh, orang kejam? Bisa jadi dia hanyalah seorang Jaksa jujur yang mencoba untuk menjalankan tugasnya secara bertanggungjawab dan sesuai dengan hukum, dimana ia meyakini bahwa isi email Prita itu bukan curhat melainkan sudah menjurus ke arah penghinaan, sehingga ia berkeyakinan bahwa email tersebut bertentangan dengan Pasal 27 UU ITE. Apakah masyarakat yang begitu gembar gembor menjelek2kan institusi hukum dalam kasus Prita ini semua sudah membaca isi dari Pasal 27 UU ITE tersebut? sudah membaca isi email Prita tersebut? Ataukah mereka hanya sekedar ikut2 karena merasa simpatik melihat ada “orang kecil” yang didzalimi oleh seorang “goliath”?
Penyelamatan Bank Century. Saat ada sebagian orang yang merasa dirugikan karena tidak menerima ganti rugi atas uang mereka setelah bangkrutnya Bank Century, masyarakat langsung menyalahkan para pengambil keputusan yang mengintruksikan agar Bank Century diselamatkan. Seakan2 ada konspirasi besar dibalik semua ini. Dimata masyarakat kasus ini seakan2 adalah Muslim Aceh vs Snouck Hurgronje. Tunggul Ametung vs Ken Arok. Korban vs penipu. Di mata masyarakat, Sri Mulyani dan Boediono harus dijatuhkan, dinistakan,…. dihinakan. Pada saat peringatan hari antikorupsi kemarin foto Boediono dan Sri Mulyani dibakar, dibuatkan pocong atas nama mereka berdua untuk kemudian juga dibakar, dipasangkan tanduk pada fotonya yang melambangkan setan/iblis/kejahatan, dll. Padahal, tahukah mereka proses panjang yang diambil oleh Sri Mulyani dalam memimpin rapat KSSK, dari jam 12 dini hari sampai dengan jam 6 pagi, sebelum mengambil keputusan itu? tahukah mereka bahwa beliau buru2 pulang dari Washington dimana kondisi global saat itu sudah menggambarkan perekonomian dunia dalam kondisi darurat, sangat genting, untuk memimpin rapat KSSK dalam rangka menyikapi gagal kliringnya Bank Century? tahukah mereka bahwa ada begitu banyak pihak yang dilibatkan dalam memberikan masukannya, mulai dari pejabat Bank Mandiri, UKP3R, BKF, dll, sebelum keputusan itu diambil agar keputusan yang diambil bisa lebih objektif? mengertikah mereka bahwa ketika keputusan diambil, ingatan Menkeu masih sangat fresh (segar) dengan peristiwa gejolak ekonomi dunia karena baru pulang dari KTT G-20 yang khusus membahas langkah-langkah penanganan krisis global? seandainya mereka berada di posisi Menkeu, maukah mereka mengambil resiko mempertaruhkan perekonomian nasional dengan membiarkan Bank Century mati tanpa bantuan dan membawa dampak pada runtuhnya bank-bank lain yang memiliki ukuran serupa, yang memiliki kondisi keuangan yang serupa? sebuah taruhan yang besar nilainya. sebuah taruhan yang krusial pengaruhnya. Atau jangan2 masyarakat ini hanya ikut2 saja ketika ada oknum yang mengatakan bahwa Menkeu telah memainkan sebuah bola konspirasi yang besar di republik ini demi menguntungkan pihak2 tertentu tanpa melakukan verifikasi lebih lanjut? Atau jangan2 masyarakat kita memang sekedar senang mencari kambing hitam ketika ada masalah yang menjeratnya?
………..
3 kasus besar, 3 kisah yang menimpa republik ini, 3 cerita yang menggambarkan betapa HEBATNYA KEKUATAN MASYARAKAT (PEOPLE POWER) …. atau jangan2, bukan people power yang menonjol disini tp justru powerless people yang gampang disetir2 oleh isu dan pemberitaan sesuai dengan kehendak si empunya cerita?
“Don’t criticize what you don’t understand, son. You never walked in that man’s shoes” - Elvis Presley
No Comments »
“Islamic followers can be capitalists too”…. begitulah kurang lebih ungkapan yang tertulis dari sebuah artikel yang baru saja gue baca berkaitan dengan peristiwa defaultnya Obligasi Sukuk Dubai World. Buat anda yang kurang mengikuti perkembangan berita keuangan, minggu lalu (bertepatan dengan hari Raya Idul Adha), perusahaan properti terbesar di Dubai, Dubai World, mengumumkan bahwasanya mereka tidak akan mampu memenuhi kewajiban pembayaran utangnya yang akan segera jatuh tempo .
Yang cukup bikin gue agak tertarik waktu pertama kali dengar berita ini adalah, bukankah Obligasi Sukuk itu produk ekonomi syariah? kalau demikian, bagaimana mungkin produk syariah bisa mengenal kata “default”? lha wong, mereka itu konsepnya bagi hasil. Jadi harusnya ga ada istilah default di kamus mereka. Kalau ga ada laba yah ga ada bagi hasil. As simple as that. Ga perlu ada istilah default2an.
Kalau anda kurang familiar dengan istilah “default” berhubungan dengan kasus diatas, investorwords.com mendefinisikan default sebagai:
Failure to make required debt payments on a timely basis or to comply with other conditions of an obligation or agreement.
Kata kunci dari definisi diatas: debt payments. Dalam kamus ekonomi syariah, hal ini tergolong sebagai sesuatu yang melanggar “aturan main”. Bagaimana mungkin sebuah instrument syariah (dlm hal ini: obligasi sukuk) yang seharusnya berbasiskan bagi hasil (hanya sharing disaat memperoleh profit), bisa berubah bentuk menjadi utang yang harus dibayar (tidak peduli kondisi profit atau tidak)?
Islamic sharia rules melarang terjadinya riba (read: utang), so anyone lending money is barred from charging interest. Instead, investors are granted a share of the assets. Seharusnya share of assets inilah yang menjadi basis mekanisme bagi hasil. Tapi dalam kasus Dubai World, mereka justru “memanipulasi” hal ini, sehingga instead of melakukan bagi hasil, mereka justru malah “pay rent” kepada para investor sukuk yang dianggap sebagai part-owner of the mentioned asset. Alur ini tergambar pada diagram dibawah ini:
![sukuk-structure[3].jpg](http://fajjar.blog.friendster.com/files/sukuk-structure3.jpg)
Lebih detilnya, investopedia menggambarkan mekanisme pembayaran Sukuk ini sebagai berikut:
“An Islamic financial certificate, similar to a bond in Western finance, that complies with Sharia, Islamic religious law. Because the traditional Western interest paying bond structure is not permissible, the issuer of a sukuk sells an investor group the certificate, who then rents it back to the issuer for a predetermined rental fee. The issuer also makes a contractual promise to buy back the bonds at a future date at par value.”
Kalau begini ceritanya, tidak ada bedanya Obligasi Syariah (Sukuk) dengan Hutang biasa.
Terlepas dari masalah defaultnya Sukuk ini yang mencorengkan reputasi Islamic Finance yang akhir2 ini sering digembar-gemborkan sebagai sistem ekonomi alternatif yang lebih sustainable dan stabil dibandingkan sistem ekonomi konvensional (kapitalis), sebenarnya ada 1 masalah yang jauh lebih fundamental yang menyebabkan semua ini bisa terjadi ….. Umat Muslim pun bisa menjadi greedy
Demi bisa mendapatkan dana yang mereka butuhkan, mereka mengembangkan sebuah produk finansial yang “attractive” di mata investor. Secara transaksional hal ini memang tidaklah impossible, apalagi mereka hanya perlu melakukan sedikit modifikasi pada produk sukuk yang murni berbasiskan konsep shariah. Tapi karena dibutakan oleh sifat greedy ini, mereka tidak melihat bahwasanya praktek ini justru bertentangan dengan nilai dan spirit dari ekonomi shariah yang mengedepankan kebersamaan dalam pembagian keuntungan dan juga resiko.
Apa yang salah disini?
Mindset….
Disini pola pikir mereka hanya terpaku pada sisi transaksional saja. Selama suatu transaksi dirasa mungkin untuk dilakukan (dan juga dirasa memberikan keuntungan), maka tidak ada halangan bagi mereka untuk melakukannya. Seharusnya mereka berpikir panjang dan melihat one step further beyond the matters of transactional issues, seharusnya mereka bisa melihat apakah hal ini bertentangan dengan nilai dan semangat yang mereka anut.
Disinilah sifat seorang leader yang mengedepankan value (nilai-nilai) berperan dalam menentukan arah berjalannya suatu organisasi atau komunitas. Some people called it “value-based leadership”. Sehingga tidak hanya pertimbangan untung-rugi saja yang ada di benak mereka (atau “transactional-based leadership”), namun juga semangat atau visi dari value yang mereka percayai pun turut menjadi pertimbangan utama mereka dalam menggerakkan komunitasnya / organisasinya.
Tags: bond, debt, dubai, ekonomi, finance, hutang, islamic, krisis, leadership, mindset, obligasi, organisasi, riba, sharia, sukuk, transactional, value
No Comments »
Pada pertengahan tahun 90an perekonomian Indonesia terus mengalami peningkatan seperti yang telah dirasakan oleh negara ini ditahun2 sebelumnya. Industri terus berkembang. Perdagangan terus meningkat. Kurs rupiah stabil tanpa gejolak. Ditengah2 kondisi yang kondusif sedemikian rupa, tidaklah mengherankan jikalau akhirnya ada banyak pengusaha yang kemudian lebih milih ambil hutang dari luar negeri (dalam bentuk USD) karena bunga-nya lebih murah drpd hutang dr dalam negeri (dalam bentuk IDR), untuk bisa lebih mengembangkan bisnisnya. Tapi siapa nyana, tahun 1997 Indonesia pun terperosok ke dalam krisis ekonomi yang akhirnya menyeret2 mereka ke lubang hutang yang semakin membesar akibat kurs rupiah yang sebelumnya stabil berubah menjadi mata uang yang terus anjlok seakan-akan tiada bernilai. Mereka yang tadinya hutang 1Milyar rupiah (sblm krisis: 1 USD = 2.000 IDR), jadi berubah hutangnya menjadi 10M (setelah krisis: 1 USD = 20.000 IDR). 900% kenaikannya !!!
Di amerika pada akhir tahun 90an dan awal tahun 2000an industri teknologi, terutama yang berbasis web, sedang berkembang secara pesat. Banyak pebisnis yang mencoba peruntungan mereka di bisnis web dan teknologi yang sedang berkembang ini, dan tidak sedikit pula yang merasakan hasilnya. Melihat perkembangan ini, pasar saham pun merespon positif terhadap trend di sektor ini. Saham2 perusahaan yang berbasis web dan teknologi terus mengalami peningkatan nilai. Akhirnya banyak spekulasi yang terjadi. Para pemain saham rela membeli saham2 perusahaan ini tanpa peduli terhadap ukuran2 tradisional yang biasa mereka pakai dalam mengambil keputusan untuk membeli suatu saham seperti price-to-earning-ratio, return-on-asset, dll. Padahal performance suatu perusahaan seperti itu amat sangat bergantung kepada pertumbuhan ekonomi karena bagi rata2 perusahaan itu pertumbuhan itu lebih penting daripada profit.Lihatlah amazon.com dan google.com yang tidak punya laba di awal2 pembentukannya namun mereka lebih fokus ke growth bisnis mereka. Sehingga timbul istilah growth over profit mentality untuk sektor tersebut. Tapi siapa nyana pada thn 1999 - 2000 pemerintah US menaikkan interest rate sebanyak 6 kali sehingga berdampak pada pelambatan laju ekonomi. Alhasil growth yang diharapkan oleh para pebisnis dotcom ini pun tidak terealisasi. Akhirnya terjadilah dot-com bubble, dimana banyak perusahaan ini yang gulung tikar dan banyak pemegang saham yang merugi.
Menjelang berakhirnya dekade 2000an, harga perumahaan di US terus meningkat karena ditunjang oleh bunga KPR yang amat sangat ringan dan mudah prosesnya yang disebut sebagai subprime mortgage. Alhasil banyak pihak yang berlomba2 untuk mengambil (dan juga memberikan) pinjaman KPR untuk membeli rumah yang harganya naik terus tersebut. Tapi siapa nyana pada akhirnya para pengutang mortgage (KPR) ini tidak mampu membayar hutang mereka karena tingkat suku bunga yang terus meningkat (yang sbnrnya diakibatkan juga oleh kebijakan perang US ke timur tengah) sehingga secara massal mereka terpaksa harus menjual rumah2 mereka tersebut (sbg jaminan KPR tersebut) sehingga terjadilah penurunan harga rumah dan terciptalah housing bubble yang men-trigger terjadinya subprime mortgage crisis yang dampaknya masih terasa hingga kini.
Melihat fenomena diatas, tidaklah heran jika akhirnya banyak ungkapan di kalangan orang keuangan yang berbunyi: “bad debts are made in good times”. Lihatlah betapa seringnya orang2 itu terlena pada saat ekonomi sedang bagus2nya dan mereka menjadi kurang perhitungan dalam mengambil keputusan bisnisnya (bahkan cenderung mengambil tindakan spekulatif yang beresiko tinggi). Dan ketika ekonomi berbalik arah, there’s no way out for them.
Kalau menurut saya sih, paling tepat ungkapan itu seharusnya bad decisions are made in good times. Karena seringkali kita take for granted segala “kenikmatan” ataupun “kemudahan” yang kita dapatkan dalam hidup ini. Dan kita tidak pernah memperhitungkan, sekiranya “kenikmatan” ataupun “kemudahan” itu tiba2 diambil secara mendadak dari kita. Alhasil, kita jadi terlantar dan menderita seperti kasus krisis2 diatas.
Manusia pun tidak luput dari kesalahan yang serupa dalam kehidupan sehari-hari. Di saat badan kita sedang sakit, kita suka menyesali kenapa kita tidak menjaga kesehatan di kala masih sehat. Di saat keuangan sedang susah, kita suka menyesali kenapa kita tidak menabung di kala masih kaya. Di saat kita sudah tidak punya cukup waktu untuk orang tercinta kita, kita suka menyesali kenapa kita tidak meluangkan lebih banyak waktu di kala masih senggang. Dan masih banyak hal lain yang bisa menggambarkan betapa manusia cenderung mengambil “bad decision” terutama di saat “good times”. Oleh karena itu jangan tunggu sampai terjadi “bad times” untuk mengambil the right decision in life.
No Comments »
Adakah istri yang tidak cerewet? Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun sama.

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.
Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?
Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?
1. Benteng Penjaga Api Neraka Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat. Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat. Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.
2. Pemelihara Rumah Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran. Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.
3. Penjaga Penampilan Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu
4. Pengasuh Anak-anak Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.
5. Penyedia Hidangan Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.
Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.
Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji. Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya
**** taken from a friend’s facebook note ***
Tags: Cerewet, Cinta, Istri, Pernikahan, Rumah Tangga
2 Comments »
Udah lama juga ga baca Harvard Case Study semenjak gue selesai MBA. Sampai akhirnya kemarin gue dapat pelatihan dari Markplus (dr kantor) lalu di pelatihan itu ada group assignment dgn bahan dari Harvard Case yang judule “take the money or run?”. Sounds like an intimidating title to me.
Berawal dari jiwa entrepreneurship seorang Managing Director dari Beckman Engineering yang melihat sebuah peluang bisnis saat ia melakukan kunjungan ke site salah satu kliennya. Sebuah kesempatan yang jarang datang, apalagi bisa dibilang dia menguasai sekali teknis dr peluang bisnis itu. Dia pun akhirnya berkomitmen untuk wirausaha demi menangkap peluang itu, dengan mengajak beberapa temannya yang punya latar blkg bisnis dan teknis.
Singkat kata, untuk urusan pendanaan pun ia menawarkan projek tsb ke beberapa private equity. Dan ada 2 respon yang ia terima.
Private equity pertama, hanya bisa memenuhi 25% dr dana yang ia butuhkan. Mereka tampaknya kurang memahami seluk beluk bisnis yang ditawarkan karena mereka seringkali menanyakan pertanyaan2 yang menurutnya sangat basic sekali di industri itu. Atleast kita bisa berasumsi bahwa private equity ini “jujur”.
Private equity kedua, mampu memenuhi 100% requirement dana mereka. Di sisi lain, mereka pun tampak lihai menguasai bisnis yang ditawarkan ini.
Seems like a no brainer ya. Ofcourse, he’ll choose the 2nd one. Until tiba saatnya negosiasi kontrak. Saat semua klausul sudah disepakati dan tinggal tandatangani saja, saat private equity sudah menyuruhnya utk tandatangan tanpa perlu membaca ulang kontrak itu, ia memaksa utk membaca kontrak itu sekali lagi. Kemudian dia lihat satu pasal antidillution yang secara sepihak diganti oleh pihak private equity tanpa sepengetahuannya.
Tentu saja ia protes. Ia mempertanyakan pasal itu. Pihak private equity pun, dengan bahasa tubuh yang tertangkap agak “mencurigakan”, berdalih bahwa itu ’salah ketik’ dan segera merevisinya.
Melihat keadaan ini, kini ia jadi ragu. Apakah dia bisa mempercayai private equity ini. Dilema pun tercipta. Apakah dia sebaiknya kembali ke private equity pertama yang jujur meskipun dananya lebih kecil.
If you were him, what would you do? Take the money or run?
Group gue pun mengalami dilema kala mendiskusikan kasus ini. Tapi sbnrnya kalau kita sempat memperhatikan, yang namanya kecurigaan itu ga akan pernah bisa lepas kalau seseorang melakukan suatu “hubungan bisnis” (it doesn’t have to be jual beli, bisa saja hubungan ini berupa hutang-piutang, pinjam-meminjam, dll). Even if orang itu berbisnis dengan sodaranya sekalipun, pasti unsur kecurigaan itu ga akan hilang. Kalau mereka menghindari kecurigaan, ga akan pernah terjadi yg namanya bisnis. Kecurigaan itu bukan untuk dihindari, namun untuk di-manage.
Kasus yang ini pun tidak beda, hanya saja mungkin unsur kecurigaannya lebih besar. Namun, selama hal itu masih manageable, knp kita harus mundur.
Akhirnya group gue pun sepakat, we’ll just take the risk. We’ll still make the deal with the 2nd private equity dengan berbagai langkah risk mitigation yang sudah ada di action plan kami berikutnya.
……
Dalam hidup, kita mungkin sering menghadapi kondisi yang serupa. An opportunity comes with all its benefits, drawbacks and also risks. Masalahnya adalah would we be willing to take that opportunity and try to mitigate all its drawbacks. Afterall, opportunity tidak pernah datang 2 kali (unless if you’re just too damn lucky)
Tags: bisnis, business, case, curiga, entrepreuner, harvard, resiko, risk
3 Comments »
|